Gak tau harus gimana mengungkapkan perasaan saat melihat orang membuang sampah dari
kaca jendela mobil yang sedang laju. Aku hanya bisa speechless melihatnya, walau sempat dikhayalkan, rasanya aku pengen melakukan adegan ini sesaat setelah melihat dan berpas pas an dengan pelaku yang melakukan hal tersebut.
“Woi, turun woi, enak aja lo buang sampah sembarangan ke pinggir jalan, turun woi”, sambil mengayun ayunkan kaki sebagai tanda si pelaku harus meminggirkan mobilnya saat itu juga.
“Ada apa Bu?” jawab sang pengemudi innocent
“Ada apa, ada apa, itu tadi siapa yang buang sampah sembarangan dari kaca jendela mobil? Anak lo? Bini lo?” marah marah, muka melotot, mata memerah, eh terbalik muka merah mata melotot , sambil berkacak pinggang
“Maaf Bu, sepertinya anak dan istri saya Bu”
“Lo suruh mereka kutip lagi tuh sampah, di ujung sono noh, sampahnya, kutip lagi, enak aja, emang ini jalanan nenek moyang loh, seenaknya nyerakin sampah, apa susahnya sih tu sampah dikumpulin di mobil ntar nemu tong sampah baru dibuang. Kutip tuh, gue bilang kutip”
Mau gak mau ya kan si pelaku menyuruh anak dan istrinya buat kutip lagi sampah yang dah
dibuang sembarangan, untuk dibuang ke tempat sampah yang seharusnya.
“Mobil aja yang mentereng, adab dan etika lo kemana?”
Kemudian berlalu sambil melanjutkan perjalanan naik motor bersama Aa’ Suami. Aa Suami
pun bengong. Hahaha
Dialog galak di atas cuma ada di khayalan daku,selebihnya jika lihat kejadian serupa hanya bisa melotot, menggeleng kepala, ke arah pelaku yang buang sampah, dan berlalu, biasanya sih kalau udah digituin dia gak berani mendahului motor kami haha.
Ya selemah lemahnya iman, cuma bisa mendoakan dalam hati semoga para pelaku segera tobat.
Kalau kamu, apa yang akan kamu lakukan dengan pengendara seperti itu?
Semakin kesini, semakin
belajar, semakin mengerti, oh ini toh, jadi begitu rasanya, aduh, sakit, dan
lain-lain
Sepotong Hati yang Baru, sebuah
judul buku kumpulan cerpen karangan Tere Liye yang baru-baru ini kubaca. Entah
kenapa akhir-akhir ini doyan betul baca sesuatu yang berbau move on,patah hati, dan love story.
Mungkin di dunia ini ada orang yang tiap hari bisa merasa jatuh cinta, begitu
pun sebaliknya ada juga orang yang tiap hari bisa merasa patah hati, ah itu
semua bukankah kita yang mengendalikannya?
goodreads.com
Bukan seperti cuaca yang
benar-benar kita tak bisa mengendalikannya, tapi perasaan, aku pikir kita bisa
mengendalikannya. Ingin bahagia, ya tersenyum, ingin sedih, ya menangis, simple kan? :D
Jadi, ada satu cerita yang oleh
penulisnya di ceritakan ulang dan terinspirasi dari legenda Rama-Shinta. Cerpen
itu berjudul, Percayakah Kau Padaku? Ah, Rama, aku pikir ia pria yang
luarbiasa, ternyata ia pria yang miskin kepercayaan terhadap istrinya =(,
hadeh, baca ceritanya lembar demi lembar, ingin mencak-mencak, ingin teriak,
tapi…lagi lagi itu hanya cerita non, =), yang jelas…ada satu pelajaran yang
bisa kuambil,cinta yang besar, tanpa
disertai komitmen dan kepercayaan, maka ia hanya akan menelan diri sendiri.
Lalu, ada kisah, Buat Apa
Disesali, kisah cinta Hesty mirip cerpen Asma Nadia berjudul Cinta Begitu
Senja. Oalah…ngenes banget dah, hiks!, memang baru 24 tahun aku hidup, tapi
membaca kisah mbak Hesty dan Senja (tokoh utama dalam Cinta Begitu Senja), ah
tak bisa ku membayangkannya. Tapi, dari kedua tokoh itu, aku belajar arti
merelakan, hmm…
…Aku lebih membenci diri sendiri karena
terlalu takut untuk pergi bersama Tigor. Papa membesarkan kami keras sekali.
Penuh disiplin. Menanamkan pemahaman apapun yang kami lakukan akan mengundang
sebab-akibat hidup. Seharusnya saat itu aku memahami, jangan-jangan Papa keras
soal Tigor, agar aku benar-benar yakin apakah Tigor adalah pilihan terbaik
buatku, bukan sebaliknya, menghalangi kami seperti yang selama ini aku pahami.
Jangan-jangan Papa keras soal Tigor, hanya untuk melihat seberapa yakin aku atas
keputusan yang aku lakukan. Tapi mau dikata apa? Itu sudah terjadi dua puluh
tahun silam…(Hesty)
Belum lagi membahas cerpen yang
jadi judul buku, Sepotong Hati yang Baru, membacanya akan membuat pembaca
merenung, bahwa dalam tubuh kita terdapat sepotong hati, satu-satunya, yang
buat repot adalah bagaimana jika hati yang hanya sepotong ini terluka, lagi dan
lagi? Apakah kita bisa mengobatinya? Atau sembuh sendiri tanpa bekas? Atau
pilihan yang bijak adalah menggantinya dengan sepotong hati yang baru?
Cinta bukan sekadar soal menerima apa
adanya. Cinta adalah harga diri. Cinta adalah rasionalitas sempurna. Jika kau
memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak
butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga. Kau
dengan mudah membenarkan apa yang terjadi di hati, tanpa tahu, tanpa memberikan
kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan
perasaan tersebut. Tidak lebih, tidak kurang. (Fajar, Sepotong Hati yang Baru)
Oke…find, buku Sepotong Hati yang Baru,
sanggup meluaskan hatiku kembali, mampu membuatku bernafas lebih lapang lagi,
setelah semua, semua, semua… itu mendera, dan belajar melewatinya…
Nah,
tadi sore, jadwal wawancara dengan pasangan suami istri yang menginspirasi,
disela sela wawancara kisah cinta mereka, maka oleh si suami , ia teringat
beberapa waktu lalu datang kiriman novel dari muridnya, novel berjudul 31 Hari
Mohammad Yasser Fachri. Sinopsisnya…hmm..
“Selama tiga puluh
satu hari ke depan kita tidak akan berhubungan dengan cara apapun…Biarkan semua
berjalan apa adanya agar diri kita merasakan apa yang seharusnya kita rasakan.
Jika kita benar-benar saling membutuhkan, jiwa kita akan merintih merasakan kepedihan
yang amat sangat. Hal ini sudah cukup membuat kita yakin untuk kembali
bersatu,” jelas Faisal.
“Jika tidak?” tanya
Laksmi.
“Jika tidak… atau
keraguan masih melanda jiwa kita masing-masing, berarti kita memang tidak
ditakdirkan untuk menyatu. Cinta
membutuhkan keyakinan, Laksmi. Hal yang tidak kita miliki saat ini,” jawab
Faisal.
Dalam 31 HARI ke
depan, keputusan itu harus dibuat. Tiada lagi ruang untuk menunggu bagi Faisal
dan Laksmi. Apakah mereka akan menyatu merangkai kenangan indah yang begitu
banyak telah membekas di jiwa mereka? Atau berpisah demi untuk mengubur dendam
masa lalu kedua orangtua mereka?
31 Hari adalah kisah
penuh kekuatan tentang kasih sayang, penderitaan, ketakwaan dan dendam masa
lalu. Sebuah kisah dengan berbagai ujian hidup yang menyertai tanpa henti yang
pada akhirnya berbuah pada banyak hal 'baik' yang tak terduga. Banyak pesan
moral yang tertuang dalam kisah ini bagai membuka lembaran-lembaran hikmah yang
tak ada habis-habisnya untuk digali. Mohammad Yasser Fachri dengan begitu
detail menghadirkan sisi-sisi keindahan kota Washington DC yang dibalut dengan
penggambaran Islam sebagai Rahmatan Lil Alamin dalam bahasa yang santun tanpa
menggurui.
http://www.leutikaprio.com
Hoh,
daku penasaran gila sama isi novelnya, ingin rasanya pinjam, tapi gak tega,
novel itu baru tiba di tangan sang guru pada 13 Des 2012, bagaimana bisa aku
tega, meminjam novel yang seminggu baru tiba? *lebayyy* :D
SMS
itu…
‘Commitment is a funny thing, you know? It’s
almost like getting a tattoo. You think, and you think and you think and you
think before get one. And once you get one, it sticks to you hard and deep’ –Devortiare,
Ika Natassa-
Kau tahu? Komitmen itu sesuatu yang
menggelikkan. Itu hampir sama dengan memasang tato. Kau berpikir dan berpikir
dan berpikir dan berpikir berkali-kali sebelum menggunakannya. Dan sekali kau
memakainya, itu akan menempel dengan kuat dan dalam.
SMS
itu panjang betul, 5 halaman untuk ukuran hape tipe nexian smartphone cakepku ini...
Jadi ingat penggalan lirik One More Night-nya Maroon 5:
And you stuck to my body/to my body like a tattoo/and
now I am feeling stupid, feeling stupid calling back to you …
Atau hasil hunting mengitari isi dari toko buku dan menemukan, these...
Salahsatu yang terberat memang yaitu ketika orangtua kita menyatakan tidak pada seseorang yang begitu kita cintai. Sesungguhnya itu ujian untuk dapat melihat betul perasaan yang kita miliki. Membawa kekasihmu di dalam doa tidak ada salahnya. Selalu ada kesempatan untuk kita memberi pengertian tentang betapa cinta tidak dapat dimengerti semua orang, termasuk orangtua kita sendiri. Hanya jangan meraksasa ketakutanmu dan kemudian kau melepas cinta yang bisa jadi sesuatu yang harus kau sesali di hari demi hari di masa depan (Dear Zarry's)
--------------
GEDUBRAK!!!
Nayla,
jatuh dari tempat tidurnya, ternyata ia hanya mimpi
*ah
cerita apaan ini? Abaikan saja jika gak penting* :D
Atau…
‘maaf
bu, anak ibu hanya akan sanggup bertahan hidup selama 5 tahun’
*adegan
ini? Selalu di sinetron sinetron -_-‘, siapa kita bisa nentuin jatah hidup
manusia?*
#penulis
blog ini kesambet apaan ya?
T_T
# butuh
stok paru-paru original … atau memori otak yang original juga boleh … atau
jantung yang original dan kuat, itu pun boleh…atau…apalah yang bisa membantu…sajadah
yang basah oleh air mata dari anak gadis yang hidupnya tralala pun boleh juga…atau…ah,
ibarat hujan, Allah menurunkan hal yang bisa dipilih sebagai solusi pada tiap
butir masalah yang menetas.
Nufa Zee
/
Saturday, October 13, 2012
/
0 Comments
I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up Pertama kali dengar lagu ini di angkot 20
jurusan Kp. Lalang, angkotnya sering ngetem di simpang empat pintu 1 Unimed.
Kita flashback dulu ya, kenapa
tiba-tiba aku ada di angkot itu…
Hari
itu hari Senin, hari mengejar dosen langka yang hanya dua bulan sekali ada di
kampus selebihnya dia ngajar di Malaysia. Sesampainya di kampus, sms sang dosen
baru masuk dan dia mengabarkan bahwa aku harus menemuinya di kampus
Pascasarjana yang letaknya diujung langit :D, pukul 1.
Mendadak
lemas bin panik, aku butuh tandatangannya hari ini juga agar aku bisa urus
ijazah, mau tak mau aku harus kesana tapi gimana caranya sedangkan jam 2 aku
ngajar. Dilema.
Aku
terduduk di taman fakultas, selagi menunggu skripsiku ditandatangani sama Dekan
dan distempel. Aku ngobrol dengan adik kelas waktu di MAN dulu dan kami
sama-sama tamat kuliah :D, gak lama ngobrol datang temanku ngabarkan bahwa aku
belum dinyatakan lulus dalam seleksi program pembibitan dosen.
maksa banget ya kan? :D
Deg!
Huwaa..bercampur rasa, bingung, dilemma, ditambah lagi berita yg tadi.
Sebenarnya utk keputusan apapun, aku sudah mempersiapkan diri. Dari awal berdoa
begini, ‘Ya Allah jika memang ada rezeki dalam program pembibitan dosen ini,
lancarkan, mudahkan, namun bila tidak berilah pengganti yg lebih baik, dan
jangan buat aku terlalu kecewa ya Allah, aamiin’
Gak
terlalu kecewa memang, tapi mendadak berkelebat segala rencana-rencana yg ada
di kepala. Jika aku lulus maka akan begini rencana hidup yg kurancang, jika
belum lulus, aku akan banting setir dengan menjadi job hunter :D
Sedihnya
lagi, aku jadi teringat nenek, pertama kali dia dengar aku dapat tawaran
beasiswa ini, nenek senang gilak, dia sampai memelukku dan menangis.
*wuaahh..tisu? mana tisu?* Makanya yang pertama kali terbayang sejak dapat
kabar dari temanku itu adalah wajah nenek, dan
sampai sekarang belum aku sampaikan pada nenek bahwa aku gak lulus.
Setelah itu wajah orangtua, dan semua yang tersayang. Hiks…!
Selagi
minta pertolongan ke sahabat yang bisa ditebengin buat ke kampus Pasca,
Alhamdulillah ada dan kami janjian ketemu di kantornya.
Maka
untuk menuju ke kantornya, aku langsung jalan terburu, mencoba mengabaikan rasa
‘kecewa’, dan naik angkot 20 yg sedang ngetem.
Disinilah aku, …
Menunggu
penumpang, ramai dulu penumpang baru jalan. Syukurnya gak terlalu
bengong-bengong amat, supirnya pasang muter radio, jadi bisa denger music,
namun asli membuatku teringat apa yang dikabarkan temanku itu tadi ditambah
lagi alunan musik I won’t give up, ya
ampuunnn…aku meleleh T_T, ku tahan air mataku, soalnya selain aku ada dua
perempuan cewek di depanku, malu dong kalau aku nangis. :D
Huwaaa…sedih
banget, duh gara-gara lagu itu aku cengeng gila, sampai kucatat, lirik reff nya,
dan bertekad aku harus temukan lagu itu.
Setengah
jam berlalu, dalam perasaan kacau balau, lengkap sudah kegelisahanku, 15 menit
lalu aku sudah tanyakan ke supir kapan akan berangkat, katanya tunggu 3 orang
lagi. Ok fine!
10
menit penumpang udah berjumlah lima, tapi kok belum jalan juga, gak iya nih.
Aku turun, naik angkot 62 and then
sampai di aksara nyambung 65. Finally, 1
jam waktuku terbuang begitu saja, dan akhirnya sampai juga di kantor sahabatku
itu.
Hari
Senin, kulalui dengan rasa campur baur. Dan jadi teringat dengan apa yang
ditulis Ippho ‘Right’ Sentosa dalam bukunya 10 Jurus terlarang.
gramediaonline.com
…Kalaulah kita mengucurkan air mata karena
kehilangan, kegagalan, atau kebuntuan, maka itu adalah sinyal kelemahan.
Kelemahan karena tangisan itu menunjukkan betapa posesifnya kita, betapa egonya
kita, betapa tidak rasionalnya kita…Tangisan jenis ini yang merupakan tanda
kerapuhan diri…Menangislah bila harus menangis kata Dewa 19. Sekali lagi, bukan
sembarang meneteskan air mata! Sejenak dan sesekali, menangislah demi impian-impian,
nilai-nilai, orang terkasih, dan penyesalan-penyesalan. Percayalah kita tidak
akan pernah menjadi lemah karenanya, justru kita akan peroleh pencerahan,
kelegaan dan kekuatan!
Dikuatkan
lagi dengan pesan singkat seorang sahabat, dia bilang begini ‘Sudah gak apa,
Allah pasti sudah mempersiapkan rencana yang lebih baik, lebih indah, dari ini,
tenang aja’, :)
Hari Rabunya, aku ke Gramedia, setelah dari
acara diskusi dengan Esmeralda, dan pas bergerilya di bagian stationary, eh lagu ini diputar lagi, ah
gak iya nih, lagunya begitu sesuatu. Saatnya menuju download lagu gratis :D.
Sampai disini…aku belum tau siapa penyanyi lagu I won’t give up :D
-to be continued… Ada apa dengan ‘I Won’t Give Up?
Nufa Zee
/
Thursday, September 27, 2012
/
0 Comments
Oleh: Zee
Shabrina
Kemanakah para wanita melarikan hatinya yang retak
retak?
Pertanyaan itulah yang menggelayut di hati
tiga wanita muda di depanku ini. Awalnya mereka hanya berdua saja, namun di
pertigaan jalan mereka bertemu dengan teman mereka, dan bersama-sama memutuskan
untuk singgah di sebuah café dan setelah itu bisa ditebak, bertaburan cerita
disela-sela makanan yang sesekali disendokkan ke mulut dan hisapan minuman di
setiap jeda cerita yang menyeretkan tenggorokan.
Wanita yang sedang patah hati memang sering
tidak bisa dipisahkan dengan makanan, lihat saja tiga wanita di depanku ini,
seorang yang belakangan aku tahu namanya Nayla memesan satu porsi burger yang
besar yakni dua tumpuk roti dan dua tumpuk daging sapi. Teman Big Burgernya,
Nay memesan Orange Float. Ah, aku tebak dia sepertinya memang lagi patah hati.
Sekilas Nayla memiliki postur tubuh yang imut-imut,sebelas dua belas dengan
artis Yuni Shara, tapi makannya itu loh, seperti ada roh seorang kuli bangunan
yang kelaparan merasuk di diri dia sehingga sanggup memesan burger sebesar itu.
Sedangkan dua temannya lagi masih bingung
hendak memesan apa. Tania sibuk mencari-cari nasi, baginya makan siang tanpa
nasi seperti burung terbang tanpa sayap, namun akhirnya dia menyerah, jauh-jauh
kesini hanya untuk makan nasi? Mungkin begitu pikirnya, dan ia pun memesan Egg
Burgerserta teh botol tanpa es.
Berikutnya, sahabat Nayla, Faras, sebingung-bingungnya Tania lebih bingung lagi
Faras saat memesan makan siangnya. Meski belum ada penelitian tentang pengaruh
gaya memesan makanan dengan pengalaman mengejar cinta, tapi gaya Faras memesan
makanan tidak jauh beda dengan cerita cinta yang akan mengalir darinya.
Beberapa menit kemudian, setelah didesak Nayla agar segera memutuskan mau
memesan apa barulah Faras tersentak dan segera memesan Omelet Burger Belepotan
dan Cappucino Float. Nayla pun segera menuliskan pesanan mereka di secarik
kertas kecil lalu menyerahkannya ke kasir. Mereka kembali ke meja yang
dirancang agar bisa duduk lesehan. Dengan posisi meja paling sudut dengan
begitu dunia milik mereka.
Menunggu adalah pekerjaan paling membosankan
sedunia, tapi tidak dengan menunggu pesanan selesai dimasak. Menunggu makanan
cukup dengan cerita.
‘Ayolah, siapa ini yang mau memulai cerita?’
Nayla memulai pembicaraan
Aku menyimak dan bersiap-siap dengan catatan
dan pena buluku.
‘Kaulah dulu, Nay, hahaha’, desak Faras
‘Enak aja, secara dirimu yang heboh kali tadi
malam, sewaktu chatting di fesbuk,
pas kutanya tumben belum tidur? Dirimu jawab, aku lagi galau, galau yang
bahagia’
Faras tak berkutik, karena memang dia
penyebab pertemuan dadakan ini digelar, belum lagi penculikan dadakan juga
terhadap Tania yang ketemu di pertigaan dan langsung diseret-seret ke café ini.
‘Hahaha, sedikit lagi kok, oh ya pas kali
kita ketemu, aku juga tadi habis menyebarkan undangan pesta pernikahan abangku,
dating ya tanggal 23 bulan ini, eh undangan untukmu Nay, udah aku satukan
dengan undangan buat teman-teman kita sekelas dulu’
‘Aku kira ini undangan pesta pernikahanmu
Tan’, celetuk Faras
Mesti ya kemana-mana dulu ceritanya? Dari
cerita ke undangan pesta pernikahan, lalu membahas abang-abangnya Tania.
Kemudian rentetan pertanyaan Faras tentang kenapa kalau briptu pasti mencari
pasangan yang profesi dokter, kalau bukan dokter, pasti perawat. Nah loh,
kenapa? Aku pun tak tahu, tapi kemudian Tania menjelaskan, mungkin kayak kisah
para pejuang zaman dulu yang butuh seorang pendamping yang perawat atau dokter
agar memudahkan sepak terjang sang pejuang, jika terluka tembak ada yang
merawat, jika kena tusukan panah juga ada yang merawat.
Mataku seperti bola pingpong yang dilempar
sana sini, sebentar mendengar Faras komentar, lalu Tania yang menjelaskan
kemudian Nayla dengan sanggahannya.
Tak berapa lama pembicaraan yang memanas itu
kemudian mendapat jeda dari datangnya minuman Orange Float –nya Nayla, kemudian
teh botol-nya Tania dan Cappucino Float-nya Faras. Jika sudah ditemani minuman,
maka pembicaraan semakin tambah lengkap tinggal menunggu pesanan intinya
datang, maka makin lengkaplah ritual para wanita ini berbagi kisah.
‘Ini tentang kisah Mr. B itu Nay, ternyata
dia sudah menemukan penggantiku, tapi aku gak sedih lagi Nay, sepertinya Tuhan
menunjukkan siapa dia sebenarnya dan syukurlah aku tak perlu berlama-lama
termakan harapan palsu darinya, walau sebenarnya jika aku ingat-ingat, menyesal
juga aku, kenapalah kemarin itu aku bisa terbuai dengan segala harapan dan
janji manisnya’ Faras mulai berkisah
‘Aku memang galau Nay, tapi galau yang
membahagiakan, karena aku sudah tidak perlu lagi berprasangkan apakah masih ada
aku di hatinya, jika sudah begini, semuanya menjadi jelas. Namun, masalahnya
sekarang, gadis yang dekat dengan dia adalah adik kelasku di kampus, yang
sering curhat ke aku, dan aku tidak ingin gadis itu menjadi korban berikutnya
dari janji palsu Mr. B’, Faras lalu meneguk Cappucino Float-nya. ‘Menurutmu
Nay, Tan, apakah aku harus cerita ke gadis itu tentang kondisi Mr. B dan aku?’
Tania dan Nayla, terdiam sejenak dan
berpikir. Tak lama datang pesanan Nayla yakni Big Burgernya. Nay terpelongo,
burgernya memang besar. Bukan Nayla namanya jika tak berpoto-poto ria dengan
makanannya sebelum berpindah ke perut. Beruntung Tania bawa kamera, Nayla dan
Big Burger, habis bernarsis ria. Nayla membuka mulutnya lebar-lebar seolah
hendak memakan big burger sekaligus, lalu ‘klik, kemudian pose berikutnya Big
Burger, Nayla dan Faras sekaligus jadi objek poto. Klik.
dok. pribadi
Nayla, dengan nafsu makannya yang sebenarnya
tidak besar tapi dibesar-besarkannya sebesar galau yang menelingkup hati dan
pikirannya beberapa hari belakangan.
‘Ya ampun, Nay, kesampaian juga niatmu buat
makan sebanyak-banyaknya hari ini’ canda Faras.
‘Iya, Fa, hahahaha’, Nay pun menjatuhkan Big
Burgernya yang tingginya sama dengan tiga apel yang ditumpuk jadi satu. Pada
lapisan atas adaroti, lalu saos tomat
dengan irisan keju yang banyak, kemudian daging, lalu timun,telur dadar, timun dan tomat kemudian daging
lagi dan terakhir irisan selada dan mayonais manis rasa kacang kemudian ditutup
dengan roti kembali. Sempurna! Nay, menyantap burgernya dari irisan roti paling
bawah. Inilah gaya makan burger versi Nay dengan menggunakan otak kanan.
Pengunjung yang duduk di ujung sana juga memesan hal sama, malah makan burger
dari irisan roti paling atas dan rapi sekali sedangkan Nay yang selebor dan
urak-urakan malah makan burger dengan sadis, makan dari irisan roti paling
bawah lalu memporak porandakannya dengan makan irisan daging setelah dicocol
dengan saos cabe.
Faras dan Tania hanya bisa tertawa melihat
tingkah Nayla saat membantai big burgernya yang tak lagi sempurna. Kisah pun
berlanjut. Nay mengiris roti yang telah dicocol dengan saos cabe serta perasaan
penuh gundah gulana. Burger yang malang.
‘Kalo aku weeeyy…aku sekarang sedang
digantung’, Nay cerita sambil mengunyah dan bersiap-siap mengiris daging dengan
pisaunya untuk menyusul sang irisan roti yang telah mendarat sukses di mulut
Nay. ‘Di gantung karena ia belum mau bercerita kenapa sampai mendiamkanku
hingga hari ini, memang awalnya adalah saat aku bercerita tentang bahwa
keluargaku tidak setuju aku menjalin hubungan dengannya, keluargaku memintaku
memutuskannya, karena ia bukan pegawai negeri, karena ia bukan sarjana’. Nay
mulai memasukkan daging ke mulutnya, mengunyahnya perlahan. ‘Sebenarnya,
keluargaku gak punya alasan menolak dia, tapi lebih kepada urusan mereka lah
sebagai orangtua yang belum selesai di masa lalu, kemudian ketika kami semakin
besar dan bertemu,kamilah yang jadi korban, dah gitu, mungkin karena aku belum
bisa memberi apa-apa ke keluargaku sehingga mereka belum bisa menerima dan
menghargai keputusanku. Sekarang, setelah seminggu lalu dia membombardirku
dengan sms-sms pertanyaan dan aku hampir tak kuasa membalasnya satu persatu,
dan berakhir dengan diam saat ia mengirimkan satu sms yang isinya aku percaya, bahwa cinta yang sebenarnya
adalah melepaskan bukan menggenggam. Sampai di sms itu, aku terus
mendesaknya untuk cerita, aku siap memberinya telinga, tapi dia belum bersuara
hingga saat ini’. Nay menghela napas dan meraih Orange Float-nya seolah daging
yang ia makan sulit sekali ditelan sesulit menjalani hari-hari tanpa komunikasi
yang jelas dari dia beberapa hari belakangan. ‘Sepertinya ia mulai menyerah
dengan hubungan ini, Tan, Fa, aku tidak mungkin memperjuangkan hubungan ini
sendirian. Ah, rasanya aku ingin mengganti nomor ponsel, lalu pergi
sejauh-jauhnya serta menenggelamkan diri dalam kesibukan, kesibukan kerja,
kerja dan kerja, menghabiskan waktu untuk orang membantu orang lain tanpa harus
sibuk memikirkan kebahagiaan sendiri. Dia tega, Fa, membiarkan aku tanpa
komunikasi yang jelas dari dia tentang maunya dia itu apa, aku jadi sedih,
Tan’. Nayla berhenti menyuapkan potongan telur dadar ke mulutnya, dan beralih
ke mengusapkan bulir air mata yang tanpa dikomandokan telah jatuh begitu saja.
‘Yang sabar ya Nay’ hibur Faras menepuk-nepuk
bahu Nayla. ‘Eits…pesanan Tania dan aku udah datang ni’, seru Faras.Egg Burger dan Omelet Burger Belepotan.
Huwaaa…aku jadi ikutan sedih mendengarkan
cerita Nayla, untung aku bawa selendang emas, walaupun sempat tertinggal tadi
di kahyangan.
Nayla secepat kilat menghapus air matanya,
dan segera beralih mencicipi Omelet Burger Belepotan-nya Faras. Teksturnya
adalah burger biasa, namun dengan lapisan keju yang dilelehkan sehingga pas
dibuka lapisan roti pertamanya, maka keluarlah lelehan keju, membikin air liur
orang kelaparan pasti akan mengalir. Nama ‘belepotan’ diambil dari kuah yang
disiramkan ke burger. Kuah yang dimaksud adalah topping untuk spaghetti yang ditumis kembali dengan irisan bawang
Bombay dan sedikit air lalu dimasak hingga kental. Sangat menggugah selera!
dok. pribadi
Kalau Egg Burger-nya Tania biasa aja, hanya
burger biasa dengan lapisan daging dan ekstra telur dadar. Sejenak kesedihan
Nayla teralihkan dengan pesona Omelet Burger Belepotan-nya Faras. Mereka makan
dengan gembiranya seolah kegalauan itu telah terwakilkan dengan makan
sepuasnya.
‘Nayla udah cerita sampai termehek-mehek, aku
juga sudah dengan habis galau terbitlah bahagia walau ujung-ujungnya galau
lagi, hahaha, sekaraaanggg, giliran Tania niiihhh’ goda Faras terhadap Tania
yang dari tadi adem ayem saja.
‘Apa? Aku? Hahahah, aku membuat kesimpulan
aja ya dari kisah-kisah kalian’, Faras keselek roti mendengarkan ceplosan
Tania.
‘Gak, gak bisa gitu ya kan Nay, atau tidak
kita biarkan dia pulang dengan tenang dari café ini, hahaha, sadis kan?’
‘Oke oke, kisahku memang tidak sefantastis
kalian, tapi kami ini murni bersahabat, tak ada memasang target apapun, walau
hubungan ini telah berjalan dua tahun. Sempat memasang target tapi selalu saja
meleset, akhirnya let it flow saja.
Kami saling mendukung saja, ya memang layaknya sahabatlah. Ini dia lagi sibuk
ngurus S2 nya’, santai Tania menjelaskan kisahnya tak ada kerisauan berarti
disana, di matanya. ‘Semoga sembilan tahun cukup untuk mengenalnya sebagai
musuh saat di SMP dan sebagai sahabat di SMA, dan masih sebagai sahabat juga
saat masing-masing di perguruan tinggi, hehehehe. Terus, Fa, menurutku, kau
harus cerita sama adik kelasmu itu tentang Mr. B, dengan begitu ia bisa punya second opinion tentang Mr. B dan
hubungan yang ia jalani dengan Mr. B, karena Faraskan telah tahu
gimana-gimananya Mr. B, kasiankan teman Faras itu nantinya. Trus, seandainya
Mr. B bisa kita jadikan Burger, akan langsung aku makan dia hahahaha’, Gelak
Tania, sambil mengiris-iris roti burgernya.
‘Aku mikirnya juga gitu Tan’, setuju Faras
‘ Trus dirimu gak malu Fa, menceritakan
kisahmu dengan Mr. B karenakan dirimu korban Mr. B, ntar dia mikir, ih, kakak
ini aja yang aku tau kritis masih bisa kena janji palsu, jangan-jangan kakak
ini gak suka dengan hubunganku dan mau merusaknya?’ Nayla mencoba menganalisa.
‘Eh biar aja Nay, daripada nanti dia dengar
cerita aku dari orang lain, kan lebih parah jadinya, ntar aku pula yang
hubungannya rusak dengan adik kelasku itu, mending aku cerita langsung ke dia
dengan niat tulus membantu menasihatkan’ jelas Faras.
Nayla, Nayla, salut sama kemampuan menyantap
Big Burger-nya walau kecepatan makannya sudah tidak secepat saat pertama kali
dia makan. Tanda-tanda kenyang sudah mulai tampak dari wajahnya dan frekuensi
garpunya menyuapkan keju pelan-pelan.Faras, dengan pisaunya menyayat roti hingga menjadi serbuk, ini
tanda-tanda kekenyangan-nya Faras dan Tania, mulai banyak minum bahkan memesan
segelas jus jeruk.
bendera putih, pertanda menyerah akan segala cobaan yg ada, hahaha :D
Aku, sepertinya harus sudah beranjak kembali,
waktuku tak banyak. Ada banyak kisah yang harus aku kumpulkan hari ini. Akulah
peri pengumpul cerita cinta.
Kemanakah para wanita melarikan hatinya yang
retak-retak? Adalah pada burger, lapisan
dan demi lapisan dari burger itu menandakan bahwa masalah cinta di dunia ini
beragam mulai yang lembut dan lezat seperti keju dan mayonise, ada juga yang
berakhir tersayat-sayat seperti daging burger yang mesti disayat-sayat dulu dan
dicocol ke saos cabe baru mendapat akhir yang nikmat. Intinya, kisah cinta
tidak bisa dilahap sekaligus, bisa mati keselek burger atau mulut penuh tak
semuanya bisa terkunyahkan dan berakhir menjadi muntah. Dan karena cinta adalah
seperti proses menikmati burger, tak bisa dipaksakan, perlahan tapi pasti dan mampu
menentramkan tiap perut yang lapar akan cinta.