-->
Menu

your blog banner

Showing posts with label Reportase Zee. Show all posts
Showing posts with label Reportase Zee. Show all posts

Rahmadiyanti Rusdi : Saya Suka Kota Medan Karena Angkotnya

/ / 0 Comments
Rahmadiyanti Rusdi : Saya Suka Kota Medan Karena Angkotnya
Siapa yang gak kenal Mbak Rahmadiyanti Rusdi atau yang akrab disapa Mbak Dee? Tentu FLPers pada tahu ya, buat yang bukan FLP juga gak apa, bila belum tahu, biar tahu maka kita makan tahu eh saya beri tahu ya *ini kenapa jadi ngobrolin tahu sih -_-“ * 
sedikit saya paparkan profil tentang Mbak Dee, kalau mau banyak, langsung aja ke Mbak Dee nya yah, insyaAllah langsung dibalas ke hp kamu *hihihi, kalau masih ingat tagline iklan ini, berarti kamu sebaya dengan saya, hahaha, #gagalfokus *

Mbak Dee adalah salah satu orang yang turut terlibat dalam membesarkan FLP, saya kenal Mbak Dee dari karya-karyanya, apalagi waktu buku-buku terbitan Lingkar Pena Publishing House masih eksis, ya karena Mbak Dee jadi editor juga di LPPH, jadinya banyak juga tulisan Mbak Dee yang tergabung dalam beberapa antologi, nah sekarang selain masih menjadi pengurus FLP Pusat, tepatnya diamanahkan menjadi Ketua Harian 1 untuk Periode 2013-2017, Mbak Dee juga bergiat di Penerbit Noura Books sejak tahun 2012 di bagian Marketing dan Promosi.

Gimana? Udah kenal dengan Mbak Dee? Kalau belum, lanjut lagi ya baca tulisan cantik ini :D Jadi ceritanya, Mbak Dee mendarat di Medan tanggal 28 Nopember bersama keluarga tercinta untuk travelling, Mbak Dee ini selain suka nonton bola, juga hobi travelling looh. Sampai dimana tadi? Oh ya mendarat yah, sesampainya di Medan, Mbak Dee sekeluarga langsung go to Parapat, pokoknya keliling Sumatera Utara dah, Danau Toba, Samosir, Berastagi, Sipiso piso, dan tanggal 30 Nopember, berakhirlah perjalanan di Medan, jadi sebelum kembali ke Jekardaah, Mbak Dee menyempatkan diri untuk singgah di sarang penulis FLP Sumut atau Rumah Cahaya. 

Dok.Pri

Maka mengalirlah diskusi diskusi seru dari Mbak Dee, meski hari Minggu itu cuaca Medan sedang galau alias Mendung berhujan rintik rintik, tapi semangat FLPers untuk hadir ke Rumcay gak surut, malah ramai *_* 

Diskusi tentu gak jauh jauh dari FLP, tulisan, penerbitan dan travelling hehehe. Mbak Dee membuka diskusi dengan kekagumannya akan kota Medan yang masih mempertahankan sarana transportasi umumnya, karena di beberapa kota di Indonesia, transportasi umum sudah mulai punah, yang masih eksis itu, bahkan lebih dari eksis, alias over angkot hihihi, Medan, Padang dan Bogor :D, ngobrolin soal kota dan angkot, saya jadi teringat dengan pengalaman Aa yang ke Bali awal Nopember lalu, di Bali itu angkot gak ada, angkot pernah ada di Bali, tapi gak ada penumpangnya, bersebab warga Bali lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, WoW :D . Bersyukurlah wahai anak Medan, angkot masih eksis weeeiii, gak kebayang angkoters tanpa angkot, ibarat aku gak lengkap tanpa kamu, #eaaak. 

http://marvellchristian.blogspot.com/2012/03/sudako-kuning.html?m=1
Sebenarnya ada banyak hal yang ditanyakan FLPers kepada Mbak Dee, termasuk saya :D, saya menanyakan seputar tips menjadi seorang editor dan bagaimana Mbak Dee bisa menjadi seorang yang sinting buku ? ^_^ 

Mbak Dee pernah cukup lama menjadi editor di LPPH tentu ia punya pengalaman yang banyak mengenai hal tersebut, dan inilah dia tips nya: 

Pertama, seorang kalau mau menjadi editor mestilah punya keterikatan dengan buku, karena pada saat mengedit naskah, editor tidak akan terpaku dengan buku yang diedit saja, tetapi juga memerlukan referensi dari buku lain yang berkaitan dengan buku yang sedang diedit. Di poin pertama ini Mbak Dee menceritakan pengalamannya saat mengedit novel Mbak Sinta, Tahta Awan, dari satu novel tersebut, Mbak Dee sampai harus membaca banyak literature agar maksimal dalam mengedit. 

Kedua, seorang editor wajib banget banget menguasai teknik mengedit. Seperti yang kita ketahui, mengedit bukan sekadar memperbaiki tanda baca yang tak tepat, memperbaiki kata yang salah ketik, nah kalau begitu mah kerjaanya copyeditor *saya baru tahu ada yang namanya copyeditor* tapi lebih dari itu. 

Tips ketiga, punya KBBI, malah sudah ada KBBI online. Wuaa sekarang, mau ngapain ngapain aja mudah banget yah, komen Mbak Dee disela-sela penjelasannya tentang tips ketiga ini, mau edit aja, KBBI sudah ada yang online, gak perlu membawa KBBI yang tebalnya minta ampun. Pun begitu, memiliki yang online dan offline malah lebih bagus ya kan? 

Selain harus punya KBBI, tips keempat, editor mesti punya kamus ungkapan, kamus sinonim, dan punya printout gaya selingkung—setiap penerbit punya penerapan kata saduran yang berbeda beda, contohnya pencantuman kata ‘salat’ di penerbit Gramedia Pustaka Utama, nah di penerbit lain bisa jadi bukan kata ‘salat’ yang diketik tapi shalat. (biasanya penerbit yang bersangkutan akan membaginya pada editor mereka) 

Dan tips kelima, Editor ituuuu wajib berwawasan luas was was was, sekarang informasi tersebar luas yah, apalagi didukung dengan fasilitas teknologi yang canggih, jadi editor gak bisa cuek cuek beibeh lagi dengan kondisi sekitar ^_^ 

Makin semangat menjadi seorang editor nih, InsyaAllah Bisa!!! 

Nah, menjadi apapun kita, gak lengkap tanpa gak gila baca yah, termasuk Mbak Dee, sebelum sinting buku, ia gila buku dulu hahaha. Awalnya memang distimulus dari keluarga khususnya sang ayah. Ayah Mbak Dee punya hobi baca juga, jadi wajar banget Mbak Dee gila baca bahkan sekarang sinting baca buku :D So, bila nanti jadi orangtua dan anaknya mau punya hobi baca juga, maka mulailah dari orangtua khususnya ibu untuk gila membaca buku ;) 

Oh ya, kehadiran Mbak Dee juga gak bisa dipisahkan dari penerbit Noura Books, nah mumpung orang dalamnya disini, FLPers ada yang bertanya trik agar naskah kita bisa masuk ke meja redaksi Penerbit Noura Books. Hmm nyummy. Dalam pemaparannya Mbak Dee sampaikan bahwa sebenarnya sama aja dengan penerbit lain, hanya saja, sekarang agar naskah kita dilirik penerbit, maka sebaiknya baca pasar terlebih dulu. Contohnya paling sederhana: Pak Ridwan Kamil, walikota Bandung, nah kesohoran dan terobosan dia selama menjabat sebagai walikota yang unik menjadi ide seorang penulis untuk membukukannya dan akhirnya jadilah naskah biografi tentang pak walikota, sekarang lagi proses cetak. 

Iya juga yah :D 

Well, Hampir dua jam kami berdiskusi dengan Mbak Dee, gak berasa euy *yaiyalah cuma dengerin, yang berasa itu Mbak Dee nya hihihi* . Big Thanks Mbak Dee udah mau share info ke FLP Sumut dan bagi bagi buku terbitan Noura Books jugaaa loh untuk perpustakaan Rumah Cahaya FLP Sumut, semoga berkah *_* dan berkesempatan ke Medan lagi.




Yusuf Mansur: Ustadz Digital

/ / 1 Comments
Yusuf Mansur: Ustadz Digital
“Saya tidak bangga dengan pejabat yang rajin mengunjungi rakyatnya secara langsung…“
 
dok.pribadi
 

Itulah pernyataan Ustadz Yusur Mansur atau yang akrab disapa Ustadz YM. Minggu(25/11), Ustadz YM singgah ke Medan dan berkesempatan mengisi ceramah di Ruang Kuala Deli Gedung BI Perwakilan Medan, Jl. Balai Kota No.IV yang bertemakan Up Your Life: Sholat, Ilmu, Amal Sholeh, Bisnis,Bekerja.
Acara dihadiri oleh sekitar tiga ratusan jama’ah, ada dari kalangan perbankan, keluarga besar BI di Medan, pelajar, dan masyarakat umum. Tak banyak yang Ustadz sampaikan, diantaranya Ustadz YM yang berpenampilan sederhana ini mengemukakan tentang amalan agar murah rezeki, kemudian memperkenalkan gerakan Sahabat Yusuf Mansur dan juga memperkenalkan konsep ceramah gaya baru versi Ustadz YM, serta di lima belas menit terakhir Ustadz mengemukakan masalah ekonomi islam. Seperti apa?
Baca terus ya :D
Tahun 2008, saya ke Medan, ketika hendak ke Siantar, ban mobil saya bocor, saya pun singgah ke tukang tambal ban, tukangnya cakep, dari tampangnya dia gak cocok banget jadi tukang tambal ban. Cerita demi cerita, mendengar kesulitan anak muda ini. Saya pun memberi amalan rahasia agar murah rezeki.
Amalan agar murah rezeki:
1.       Baca Surat Al-Waqi’ah setiap selesai sholat shubuh dan setiap selesai sholat Ashar
2.      Sebisa mungkin jangan sampai tinggalkan sholat berjama’ah
3.      Seharinya tukang tambal ban itu berpenghasilan 15.000, sedekahlah uang yang didapat, jangan dibawa pulang
Tanpa berpikir panjang lagi, si tukang tambal ban itu langsung mengamalkan nasihat sang Ustadz. Tak sampai hitungan tahun, tukang tambal ban itu sukses dengan  usaha supermarket.
Wow, cukup menginspirasi, silahkan buktikan ^_^
Gerakan Sahabat Yusuf Mansur (SYM)
Apa itu Gerakan Sahabat Yusuf Mansur? Berdasarkan situs resminya http://sahabatyusufmansur.com/. Gerakan Sahabat Yusuf Mansur (SYM) adalah  Gerakan dakwah satu untuk semua. Dalam gerakan ini dan di situsnya juga disampaikan bahwa kita akan mendapatkan buah pemikiran Ustadz Yusuf Mansur Melalui Ebook, Video dan media lainnya.
Belum nyambung juga ya? Jadi begini, Ustadz YM hendak mewakafkan dirinya untuk umat. Dalam ceramahnya Ustadz mengatakan bahwa ia tidak mungkin berceramah dari satu daerah ke daerah lainnya, Indonesia terlalu luas, untuk dikunjungi satu persatu. Untuk itu, Ustadz YM berinisiatif mengubah gaya ceramahnya.
Melalui gerakan SYM, ustadz akan merekam semua materi pengajian, seolah-olah ia memang ceramah secara langsung, namun itu hanya rekaman, tapi ustadz juga mengatur agar walaupun ia tidak secara fisik berada ditempat pengajian, namun sebisa mungkin ustadz tetap memunculkan aura interaktif dan tidak kaku layaknya ia berceramah secara langsung dan bertemu secara fisik.
Manfaatnya, pengajian bisa dilakukan kapan saja, tidak terikat waktu dengan adanya rekaman yang disimpan dalam cakram DVD. Kita pun bisa buat pengajian tanpa harus mengundang Ustadz YM secara fisik, cukup dengan memutar cakram DVD berisi materi pengajian.
Ustadz juga menyampaikan kritik tajamnya bahwa ia tidak bangga dengan pejabat negeri yang begitu rajin mengunjungi rakyatnya, kenapa tidak dilakukan secara digital saja, toh kunjungan langsung tak berarti memunculkan kedekatan dengan rakyat dan tidak mengubah banyak keadaan, justru kunjungan yang terlalu sering malah membuang banyak waktu, kapan lagi seorang pemimpin dapat berpikir, mengevaluasi kinerja jika rajin melakukan kunjungan kesana sini.
Ekonomi Islam di Lima Belas Menit Terakhir
Pada lima belas menit terakhir, Ustadz mulai masuk ke persoalan inti dari kunjungannya ke lingkungan perbankan. Ustadz YM selain dikenal sebagai da’I ia juga seorang pengusaha sukses.
Sebenarnya daku, agak cupu juga masalah saham, setahun lalu diajak ikut seminar tentang Garuda Indonesia yang hendak melemparkan sebagian sahamnya dibeli masyarakat umum. Awalnya gak ‘ngeh’ apaan sih nih seminar, lama kelamaan, walau belum banyak juga mengerti, tapi sedikit nyambung lah. Kemudian, pernah diajak emak untuk bermain saham, beuh…gak nyangka emakku ini ngerti juga soal saham -_-“, berapa sih nilai matematikaku mak waktu SD? Hehehe, anak gadis yang payah berhitung ya begini nih, *jadi ingat masalah uang 2000 waktu di Labat bersama kawan-kawan ATTIK hehehe, mahaph ya om Budi dan inang Manna*
#Edisi curcol, *abaikan saja* :D
Terkait perusahaan raksasa Indonesia yang saat ini sudah hampir dimiliki dan dikuasai Negara lain, perusahaan emang di Indonesia berdirinya tapi sahamnya boooo….kepemilikan saham paling besar tu bukan orang Indonesia yang beli tapi pengusaha luar -_-‘, apa gak dijadikan budak terus nih Indonesia?
Salahsatu perusahaan telekomunikasi di Indonesia juga hampir bernasib sama, saham terbesarnya dimiliki oleh Negara asing yang rakyatnya itu Cuma berjumlah 6 juta orang, namun pelanggan provider dari perusahaan telekomunikasi tersebut mencapai 40juta orang, pegimane ceritanya Negara 6 juta orang mampu membiayai perusahaan yang pelanggannya mencapai 40 juta orang? Kata Ustadz YM, nah loh kebengongkan gue @_@. Iya juga ya? Kemudian salahsatu perusahaan penerbangan terbesar di Indonesia, hampir bernasib sama juga.
Hadeh, bentar lagi kalau SDM negeri ini tak mampu lagi mengelola negerinya sendiri, bersiaplah akan dijajah lagi, karena negeri ini akan ada yang berniat buat membelinya. WOW!
Itulah kata Ustadz YM bila ekonomi dipegang oleh para kapitalis, semua keinginan berdasarkan keinginan kapitalis, tapi tidak dengan prinsip ekonomi Islam. Misalnya kita punya rumah kontrakan dan kita berniat menjual rumah tersebut, dalam Islam, kita harus menanyakan orang yang sedang mengontrak rumah kita tersebut apakah ia mau membelinya atau tidak, jika ia tentu kita menjual padanya tapi jika tidak barulah kita mencari pembelinya dengan tidak semena mena pada pengontrak pertama.
Penutupnya Ustadz menantang jama’ah untuk beranikan diri pergi ke showroom, beli mobil, walau uangnya sekarang belum ada, namun bermodalkan doa dan yakin pada Allah serta berani, tentu mobil tersebut akan kita miliki. Tertantang?

Hehehehe…

Intinya DUIT, Doa Usaha, Ikhtiar, Tawakkal, satu lagi dah, SEDEKAH :D
Wallahu’alam, Semoga bermanfaat.




DIALOG INTERAKTIF : THE POWER OF PUBLIC SPEAKING

/ / 0 Comments
DIALOG INTERAKTIF :  THE POWER OF PUBLIC SPEAKING

            Selesai urusan yang satu, maka beralih lah pada urusan yang lain. Aku yang masih muda dan aku forever young ini #ngaca dulu ^_^ berusaha bagaimana caranya mengejar ilmu sampai ke manapun meski itu gratis #yaelah siapa juga yang bisa nolak ada majelis ilmu yang bisa dihadiri secara gratis =D.
            Jum’at siang (27/4) aku yang selesai siding skripsi dan kawan-kawan dari FLP SU menghadiri Dialog Interaktif ‘The Power of Public Speaking’ di Pelataran Rumah Berdikari. Pembicara yang dihadirkan nggak tanggung-tanggung, Najwa Shihab—Presenter Mata Najwa di Metro TV dan Jeremy Tetty—Pembawa acara Liputan 6 SCTV. Peserta yang hadir terdiri dari kalangan mahasiswa, pers kampus, insan pers, dan masyarakat umum.


            Acara dimulai pukul 15.00 WIB oleh Mae selaku pembawa acara dan mempersilahkan ketua panitia menyampaikan kata sambutannya. Diketahui bahwa terselenggaranya acara ini berangkat dari tangan-tangan dingin sejumlah anak muda yang tergabung dalam LSM Mutumanikam Nusantara Center. LSM ini baru berdiri di Medan dan digawangi oleh Meutya Hafid. Mufid—begitu panggilan akrabnya, membantu anak-anak muda yang tergabung dalam LSM MNC dengan mendirikan sebuah rumah yang diberi nama rumah berdikari, rumah berdiri di kaki sendiri. Rumah ini kata Mufid disela-sela pidato pembukaannya siang menjelang sore, diharapkan bisa menjadi rumah, tempat berdiskusi tentang masalah kepemudaan, tempat share ilmu, dan hal postif lainnya. Rumah Berdikari terletak di Jl. D.I Panjaitan No. 161 Medan.
            Selanjutnya adalah acara inti yang telah dinanti-nanti para hadirin. Acara tersebut dimoderatori oleh Boy Henry—GM Delta FM Medan. Siang hari yang gerah tidak menyurutkan semangat para hadirin untuk makin merapatkan tempat duduk, semakin lama semakin ramai. Tibalah pembicara pertama yakni Najwa Shihab. Najwa yang  tampak manis dalam balutan kemeja kotak-kotak warna coklat lembut mengaku dulunya ia adalah anak yang pemalu, namun orangtua khususnya ummi-lah yang mendorongnya menjadi anak yang PD dengan cara mengikutkan Najwa pada lomba-lomba seperti lomba busana muslim, MTQ dan lain-lain, Najwa juga menambahkan pengalamannya dalam mengikuti beberapa organisasi saat di kampus dulu cukup membantunya untuk ‘vokal’ di depan umum. Selain itu Najwa juga mengungkapkan penelitian bahwa Hal yang paling ditakuti orang adalah takut berbicara di depan umum, sedangkan takut mati ada diurutan ke 7 dari daftar hal yang paling ditakutkan manusia. Aneh ya? #garuk-garuk idung. =D
            Sebelum closing Najwa memaparkan beberapa tips buat kita semua yang ada disini #hihihi macam mau konser yah ^_^.
1.      Know your room. Sebelum kita berbicara di depan umum, pastikan kita mengetahui tempat yang bakal kita isi acara mereka, dengan begitu kita mengakrabkan diri terlebih dahulu dengan suasananya dengan begitu bisa mengurangi rasa gugup
2.      Know your audience. Kenali audiens kita siapa, apakah dewasa, remaja atau manula?, jadi kita bisa sesuaikan gaya ngomong kita sehingga bisa masuk ke dunia mereka, gak mungkinkan yang hadir para remaja dan anak muda, tapi pembicaranya ngomong layaknya berhadapan dengan manula, bisa kabur para hadirinnya hehehe.
3.      Know what you say, yaeyalah, kalau kita gak tau apa yang mau kita omongin, gimana orang bisa percaya dengan apa yang kita omongin, bisa-bisa ntar kita dibilang ular berbisa kayak yang dinyanyikan Hello Band =D
4.      Atur Cara Bernafas, sebelum bicara kita sering dilanda sesak napas mendadak akibat rasa grogi yang tidak dimenejemen *deuuu bahasanya hihihih. Caranya sebelum ngomong n tindakan ini diduga bisa mengurangi rasa grogi menjadi beberapa persen *ambil kalkulator, hitung persenannya, (ini mau ngasih tips apa mau jualan sih?) =D*. Caranya: tarik napas perlahan, tahan, hitungan tiga lepaskan lewat mulut, ulang-ulang sebanyak tiga kali yah, jangan kebanyakan ntar gak jadi ngomong di depan eh malah keterusan jadi pelatih yoga *hihihih*
5.      Set of Mind, jangan pikir, poin ini sama seperti men-set kipas angin, mau kencang tinggal puter ke angka 3 hehehe, tapi setting pikiran kita, urutkan apa saja yang hendak disampaikan, poin besarnya apa, jika telah menguasai poin besarnya, selanjutnya kita bisa kembangkan dan improvisasi sesuai kadar ilmu kita dan kadar yang bisa ditangkap sama audiens. Gimana? Cucok? #bungkoossss. Yang penting ada opening, isi materi, closing (kesimpulannya). Gampangkan?  =D
6.      Jangan Ngaku Klo Gugup. Kita sering bicara di depan sebelum mulai ke inti pembicaraan seperti ini ‘Duh, mahaph ya, saya agak ribet ngomong, karena saya grogi menghadapi cowok-cowok ganteng yang ada disini’, gak penting banget dibilang begitu, orang gak bakal tau kita grogi kalo gak kita bilang, so¸ santai ja, grogi ntu cuma diawal aja, ntar dimenit-menit berikutnya malah kita lebih enjoy =D

Pembicara yang dinanti-nanti berikutnya adalah Jeremy Tetty, JT khas dengan alunan suaranya yang aduhai tralala sewaktu membawa program Liputan 6 SCTV yang jam 12 malam, Salam SCTV ( kata Salam diucapkan biasa saja, namun pada kata SCTV terjadi gemulai nada di detik-detik mulai menyebut huruf V *ribet amat yah, penjelasannya, dah mending saksikan langsung dah ke TKP*

            Menurut JT, Grogi itu perlu, karena jika Allah tidak menganugerahkan rasa grogi di hati kemungkinan besar kita tidak akan mempersiapkan penampilan kita sebelumnya dengan baik, jika itu terjadi maka kita hanya akan mempermalukan diri kita sendiri di depan umum.  Tips How to be a good publis speaker dari seorang JT cukup sederhana namun penting. Menurutnya ada 4 hal:
1.      Penampilan, jangan sampai salah kostum
2.      Perhatikan cara duduk, duduklah dengan pinggang tegak
3.      Cara berdiri, temukan blocking yang tepat di atas panggung (jika menggunakan panggung) agar penonton bisa sepenuhnya focus ke kita selaku pembicara.
The last¸ prepare makes perfect, rumusnya adalah 1:30. 1 jam berbicara di depan umum namun latihannya 30 kali. Begitu idealnya jika ingin memberikan hasil maksimal sebagai public speaker professional, gimana? Wanna try?
Yup, itulah catatan perjalanan yang bisa daku bagi ke zeereaders sekalian, semoga bermanfaat yah, yang jelas JT dan NS membuat simulasi kecil-kecilan dengan cara meminta peserta untuk berani tampil sebagai public speaker di panggung, ada 9 peserta yang berani tampil namun hanya 3 peserta yang dinila JT dan NS sebagai the best speaker of that day. Congratulation yeaahh. ^_^
Senangnyaaaa bisa menyerap ilmu langsung dari sang ahli. =D

 

Omsas: Dicari Penyair Wanita!

/ / 0 Comments
Omsas: Dicari Penyair Wanita!

           
          Medan (18/04) Tidak hanya program televisi, majalah, koran, bahkan status-status di sosial media saja  yang terkena demam emansipasi wanita, terkait April hendak menuju ke hari 21, Hari Kartini, tapi juga tema Omong-omong sastra kali ini.
            Bertepat di Kampus VI UISU Jl. Puri No.118 Medan, Omong-omong Sastra tetap berlangsung meski mendung bergelayut di langit bahkan sampai rahmat Tuhan—hujan mengiringi walau hanya sebentar. Acara dibuka dengan kata sambutan dari tuan rumah yakni Dekan FKIP UISU, Nihar Harahap. Dalam kata sambutannya Ia menghimbau agar Kebangkitan Omong-omong Sastra menjadi kebangkitan sastra di Kota Medan. Selanjutnya acara diberikan kepada S. Ratman Suras yang didapuk pengurus OOS yakni Raudah Jambak sebagai pembicara. Tema yang dibahas adalah ‘Membaca Sekilas Jejak Peta Kepenyairan Wanita Sumatera Utara’.
            Diskusi pagi menjelang siang itu diawali oleh pemaparan S. Ratman Suras tentang kondisi penyair wanita Sumatera Utara, dalam makalah sederhananya, ia menuliskan bahwa ‘Dibanding dengan pria, wanita lebih sedikit yang terjun ke dunia sastra, apalagi puisi’. Opini S. Ratman Suras tentang miskinnya penyair wanita khususnya Sumatera Utara dilihat dari frekuensi penyair wanita itu sendiri pada buku antologi puisi tunggal yang dibukukan. ‘Dari hitungan tahun 1995 sampai kini ada beberapa antologi yang bisa dicatat’, tulis S. Ratman Suras dalam makalahnya. Selain itu, menurut S. Ratman Suras timbul tenggelamnya eksistensi penyair wanita disebabkan karena kesibukan rumah tangga atau telah menemukan dunia lain yang dianggap lebih menjanjikan. Tentu, nama-nama seperti Murni Aryanti Pakpahan, Laswiayati Pisca, Susi Aga Putra, Rosliani, Jerni Martina Erita Napitupulu, Rosmaeli Siregar, Aishah Basar, Nur Hilmi Daulay serta Sumiati, adalah deretan nama penyair wanita Sumatera Utara yang kemunculannya sangat dirindukan kembali oleh penikmat sastra serta diharapkan juga mampu menebar semangat kepada penyair wanita lainnya.
            Adapun Raudah Jambak, turut menjadi pembicara dalam hajatan bergengsi ini. Ia berbicara tentang kondisi penyair wanita dari sudut pandang berbeda. Raudah Jambak mulai memaparkan masalah-masalah yang menyebabkan redupnya pijar eksistensi penyair wanita. Ia pun memulai pemaparan masalah dengan pertanyaan retorik, ‘Orang banyak menulis cerpen dan puisi tapi mental generasi muda tetap down, ini kenapa?. Kemudian Raudah Jambak melanjutkan penyebab mandegnya penyair wanita adalah adanya rasa cepat puas terhadap karya yang dilahirkan. Karya akan buat seseorang terkenal. Rendah hati akan menjadikannya abadi dan kesombongan akan menghancurkannya secara perlahan. Kritik lalu down  pun kerap menjadi penyebabnya pula, padahal jelas Raudah Jambak, Pujian itu sebenarnya racun sedangkan kritik itulah obatnya. Raudah pun mengakhiri penyebab itu semua dengan kata ‘Belajar’, belajar agar mampu setia, kesetiaan berkarya yang terus menerus.
Adalah kurang rasanya jika diskusi tanpa tanya jawab dan tanggapan, begitupun Omong-omong Sastra bulan ini. Awalnya moderator sepi penanya dan audiens yang hendak member tanggapan, namun setelah beberapa saat, muncul tanggapan dari YS. Rat. Dalam curahan pendapatnya, YS. Rat beropini bahwa kurang pas jika hanya melacak jejak penyair wanita dari jumlah buku antologi yang dihasilkan, karena menurutnya lagi saat Ia masih jadi redaktur di Harian Medan Bisnis, justru yang paling banyak mengirimkan naskah puisi adalah wanita, sampai ada seorang penyair wanita yang berkali-kali ia kirim naskah puisinya, berkali-kali pula belum dimuat-muat oleh redaktur, tapi sang penyair tetap saja mengirim tanpa ada kata menyerah, jelas YS. Rat saat menceritakan pengalamannya menjadi redaktur dan para hadirin tertawa renyah. Sembari menanti hadirnya penanya dan penanggap, S. Ratman Suras menanggapi kembali pernyataan YS. Rat, ia mengaku memang kurang melacak jejak puisi wanita di media cetak dikarenakan kesibukan yang ada dan itu menjadi saran yang berarti baginya.
Perlahan tapi pasti penanya mulai bermunculan, M. Fadhli, dalam hal ini ia menyampaikan kegelisahannya bahwa, mengapa sebegitu pentingnya membahas keberadaan penyair wanita, lalu apa bedanya dengan penyair pria? Tanggapan dari S. Ratman Suras bahwa hendaknya menulis tentang perasaan perempuan, selama ini perasaan perempuan lebih banyak ditulis oleh penulis atau penyair laki-laki. Sedangkan Raudah Jambak melihat wacana ini dari sisi yang berbeda. Fenomena saat ini lanjut Raudah, Guru Bahasa Indonesia lebih banyak perempuan, dan Bab yang paling sering dilewati adalah Bab yang membahas tentang sastra. Raudah mengajak para hadirin untuk gelisah terhadap fenomena ini, karena hal tersebutlah salahsatu penyebab hanya segelintir saja penyair perempuan yang muncul ke permukaan.
            Saatnya bangkit wahai penyair wanita Indonesia!

           
Powered by Blogger.