-->
Menu

your blog banner

Showing posts with label Artikel. Show all posts
Showing posts with label Artikel. Show all posts

5 Alasan Kenapa Saya Suka Ke Toko Buku Gramedia

/ / 10 Comments
5 Alasan Kenapa Saya Suka Ke Toko Buku Gramedia

Toko Buku Gramedia, ini tempat favorit saya setelah kamar saya haha waktu sebelum menikah. Toko Buku Gramedia juga tempat saya menghabiskan gaji mengajar saya sebagai guru TK yang waktu itu masih jomblo. Toko Buku Gramedia adalah tempat terakhir yang saya pikirkan setelah liburan gak tahu mau kemana.

Dan inilah 5 alasan kenapa saya betah banget main main ke Toko Buku Gramedia, apalagi di Medan, Toko Buku Gramedia cukup berserak hehe, ada di Medan Mall, Sun Plaza,  Jalan Gajah Mada, Hotel Santika, dan di  Jalan Ring Road.

1. Lengkap
Kalau saya melihat Toko Buku Gramedia, desain tempatnya gak tanggung-tanggung, besar dan luas. Jadi wajar banget dapat memuat banyak judul buku dan lengkap.

Seandainya buku yang kita cari gak ada atau kehabisan stok di Toko Buku Gramedia yang satu, kita bisa minta tolong ke Mbak/Mas Custom Service untuk melacaknya via data base yang ada di komputer, apakah Toko Buku Gramedia yang lain masih ada stok, kalau ada ya kita tinggal kucluk kucluk deh kesana, kayak ada manis manisnya  gitu eh kayak sudah terintegrasi gitu antara Toko Buku Gramedia yang satu dengan yang lain.  hehe

2. Rapi
Yang buat betah berlama-lama di Toko Buku Gramedia karena rapi. Rak raknya tersusun rapi, buku-buku diklasifikasikan dengan baik sehingga memudahkan pengunjung.

Ah bila sudah ke Toko Buku Gramedia bawaan saya rasanya mau menari, berlari, berputar dan berlompat kecil ala ala penari balet, menelusuri rak demi rak yang dipenuhi buku. Serasa milik sendiri itu Toko Buku Gramedia haha.

3. Nyaman
Selain rapi, saya melihat Toko Buku Gramedia juga nyaman. Sejuk AC nya. Lantainya bersih. Penerangan Oke. Senyum kakak abang pegawainya juga bikin hati adek adem *halaah haha

4. Memanjakan Telinga
 Musik musik instrumental yang kekinian yang diputar di Toko Buku Gramedia kadang buat penasaran, kok keren keren ya musik yang diputar, ingin rasanya saya masuk ke ruangan operator dan bilang "Bang, adek boleh ngopi musik musik instrumental nya" *sambil nyodorin flashdisk* wekekekek

5. Canggih
Adanya komputer data base buku sangat membantu sekali untuk pengunjung yang terburu buru Hehe. Ya saya pernah terburu buru nyari buku, intinya gak bisa berlama lama di Toko Buku Gramedia karena sudah kesorean *anak gadis gak boleh pulang malam* maka biasanya saya langsung ke komputer data base, ketik ketik klik, cari rak, ketemu deh bukunya. Canggih dan efektif.

Nah, Itulah 5 alasan dan pengamatan saya kenapa saya betah ke Toko Buku Gramedia.

Kalau kamu?

Mencandai UN

/ / 0 Comments
Mencandai UN
 
            ‘Met mlm cin..? ad ma qm knci jwbn B. Inggris klau ad krm ma q y?’, sms itu masuk ke inbox hp saya pada 16 April 2012, sekitar pukul sebelas malam. Awal dapat sms tersebut sempat kaget dan tertawa, namun segera sadar bahwa ini sms salah kirim. Lalu, apa respon saya? Saya tidak membalasnya apa-apa, mau dibalas asal-asal dengan memberikan jawaban seenaknya, itu bukan karakter saya, mau direspon jujur, nanti dia malu sendiri, walau sebenarnya saya memang tidak mengenal no hp si pengirim, dan jika saya jawab jujur pun sebenarnya sah-sah saja, jika dia malu pun tidak seberapa, secara saya tidak melihat wajahnya dan bahkan tidak tahu. Lebih baik tidak direspon.
            Bukan masalah respon atau tidak diresponnya sms salah kirim tersebut yang hendak saya bahas disini, tapi fenomena UN yang sedang melanda pada civitas dunia pendidikan di Indonesia. Mungkin saya orang yang kesekian juta yang membahas fenomena UN, nah dari sekian juta itu pulalah saya ingin menyampaikan isi hati, kegalauan saya terhadap UN.
            Ada apa dengan UN? Tenang, pertanyaan tersebut bukan sekuel film Ada Apa dengan Cinta, tapi sebuah pertanyaan retoris dari saya. Tiap tahunnya UN atau Ujian Nasional menjadi momok menakutkan para civitas dunia pendidikan yakni para guru, siswa, dan orangtua. Apapun dilakukan demi sebuah kelulusan, lulus dalam UN, seperti sholat istighosah berjama’ah, mengundang ulama untuk berdo’a bersama, rela pergi ke sekolah subuh-subuh berbarengan dengan para pelaku pasar yang baru sampai dari gunung dan mengantarkan sayur mayur ke pasar, atau sejadwal dengan para loper Koran yang menanti pembagian macam-macam Koran untuk dijajakan ke pembaca, bahkan sanggup mendatangi dukun demi mendapatkan sebuah kunci jawaban, jadi teringat kisah Ikal dan teman-temannya dalam Novel Laskar Pelangi yang minta petuah pada Tuk Bayan Tula, dukun tersakti se-Belitong. "Kalau Nak Pintar, Belajar! Kalau Nak Berhasil, Usaha!" Itulah mantra yang diberikan Tuk Bayan Tula kepada anak-anak Laskar Pelangi saat mau menghadapi ujian. Lalu ada juga saya baca di catatan teman saya, diberitakan di televisi bahwa terkait dengan menyambut UN, pihak sekolah sampai mendatangkan tokoh spiritual untuk minta ‘sesuatu’ yang bisa melancarkan ujian, lalu sang tokoh membagikan Air Mineral Dalam Kemasan (AMDK) dan pensil kepada seluruh siswa. Ada juga teman saya cerita bahwa ia menonton berita bahwa ada siswa yang kemasukan (jin) sesaat setelah selesai menjawab soal UN, diduga ia menggunakan ilmu lain selain 3 ilmu yang diujikan dalam UN untuk menjawab soal UN. Hebat benar UN ini saya pikir, ketenarannya mempu menyeret-nyeret generasi muda kelembah hitam kesyirikan yang nyata, wajar jika Tuhan sering murka belakangan ini, masih terasa beberapa waktu lalu gempa 8,5 SR mengguncang wilayah Barat Indonesia.
             Sampai disini, saya masih bertanya-tanya lagi, adakah yang lebih rasional menanggapi hal ini? Lucu saja kesannya. Okelah tidak berdukun atau memakai mantra sakti lainnya. SMS yang salah kirim ke saya saja contoh sederhana, KPK berkoar-koar, No Corruption, Katakan TIDAK pada Korupsi, tapi kenyataannya, sejak diumumkannya UN, pemerintah sebenarnya turut mengumumkan, Ayo Korupsi!. Para guru mati-matian menggadaikan idealismenya demi sebuah soal dan mengerjakannya demi keselamatan murid-muridnya, lalu membagikan kunci jawaban selain itu bekerjasama pula dengan para pengawas, pengawas dan guru sudah TST, Tahu Sama Tahu, termasuk siswa. Para wartawan bodrek pun turut pula mengaminkan dengan memberitakan hal-hal yang tampak baik. Mencontek, memberikan jawaban adalah rangkaian kata kerja yang mampu membentuk dan menanamkan budaya tidak jujur, budaya curang, budaya korupsi, budaya TIDAK PERCAYA DIRI. 
            Jadi, salahkah UN? Jika UN bisa bicara, mungkin ia akan ngomong seperti ini, ‘Jadi salah gue, salah emak gue, salah nenek gue, salah atok gue’, UN kenapa jadi anak alay begini?
            Adalah bukan hal yang salah berdoa bersama, bahkan dianjurkan artinya masih ada iman yang terpatri di jiwa,  tidak ada pertolongan selain pertolongan Tuhan, namun itu semua dilaksanakan setelah ikhtiar atau usaha yang maksimal, dan muaranya adalah menyerahkan semuanya pada Tuhan, bukan ditambah dengan memberikan ‘sesuatu’ yang bertujuan mensugesti anak. Ada sebuah penggalan episode dari serial Doraemon, suatu hari Nobita uring-uringan menghadapi ulangan umum yang diadakan esok hari, seperti biasa ia pun membujuk Doraemon, robot kucing dari abad 20 dengan kantong, untuk mengeluarkan alat yang bisa membantu Nobita mengerjakan soal ulangan. Awalnya Doraemon menolak keras, namun Nobita pun tidak menyerah ia mengeluarkan senjata air mata (air mata tapi seperti air terjun saking kencangnya ia menangis). Doraemon tak tega, ia keluarkan sebuah permen karet dari kantongnya. Permen karet itu jika dikunyah bisa langsung membuat orang mampu mengerjakan soal ujian. Keesokan harinya Nobita pergi sekolah dengan hati riang dan menjalani ulangan dengan senang hati. Saat pembagian hasil, Nobita dapat nilai bagus. Kemudian ia berterimakasih pada Doraemon, lalu Doraemon tertawa dan member tahu bahwa permen itu bukan permen karet ajaib tapi permen karet biasa. Jadi, sebenarnya yang buat Nobita berhasil bukan permen karetnya tapi usaha keras Nobita dalam belajar sebelum ulangan. Doremon dan dukun sedikit mirip ya?.
             Salahsatu sifat terpuji adalah menolong, namun menolong demi sebuah kecurangan, masih termasuk sifat terpujikah? Saya pikir, guru adalah jelmaan malaikat, ia dianggap tahu  beberapa bidang ilmu, tahu mana yang benar mana yang salah, sifat-sifatnya terpuji karena ia menjadi seorang yang digugu dan ditiru. Keputusan menjatuhkan wibawa guru setiap tahun dengan berlaku tidak jujur, cukuplah sampai disini tidak untuk to be continued.
            UN tidak perlu jadi sesuatu yang ditakutkan tapi sesuatu yang dihadapi dengan gagah perkasa. Sejak awal memutuskan anak bersekolah, persiapkan ia dengan les tambahan, tidak berpatok pada nilai namun tak paham dengan yang dipelajari, belajar itu untuk jadi tahu dan mengerti bukan untuk sebuah rangkaian nilai 9 di raport atau rangkaian huruf A tapi tidak tahu apa-apa, tanamkan kepercayaan diri yang besar bahwa ia mampu melewati masa-masa ujian, tidak perlu stress, besarkan hatinya, lalu kesiapan guru dalam mengajar dan mendidik siswanya lebih diperhatikan. Tidak perlu ada memberikan sesuatu, seperti Pensil ajaib, AMDK ajaib dan permen ajaib kepada siswa. Semua bersinergi mencerdaskan generasi bangsa. Selamat Menempuh Ujian bagi tingkatan sekolah yang belum ujian dan selamat menanti kelulusan bagi tingkatan siswa yang telah menempuh ujian. Bangkit Indonesiaku!
              ''Yun krm ma q knc jwbn B. inggrislh'' , SMS itu datang lagi pada subuh pukul 06.05 WIB. Aku harus jawab apa??? #teriak-teriak di depan HP yang tetap akan membisu hihihih

#UN >>> Hadapi sajalah, nggak perlu bergalau-galau ria, kalo dah mempersiapkan bekal dari jauh-jauh hari kan, tak ada lagi yang perlu ditakutkan, ibarat potongan lagu My Heart Will Go UN eh ON  maksudnya, You Here (Persiapan yang Matang), There's nothing I Fear *eaaaaaaaaaaaaa... ^_^
           
#Tulisan ini telah dimuat di Harian Mimbar Umum, 05/05/2012

Madre: Adonan Cerpen Bertaburan Filosofi

/ / 0 Comments
Madre: Adonan Cerpen Bertaburan Filosofi

Judul Buku          : Madre
Penulis                  : Dee/Dewi Lestari
Penerbit                : Bentang Pustaka
Cetakan                 : II, Agustus 2011
Halaman               : 162 Halaman

Madre: Adonan Cerpen Bertaburan Filosofi
Oleh: Nurul Fauziah*

            Andrea Hirata dalam novel fenomenalnya ‘Laskar Pelangi’ menuliskan tentang filosofi pencarian. Pencarian akan hal-hal yang paling kita inginkan dalam hidup ini dan pencarian akan diri kita sendiri. Karena jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apapun keadaannya.
            Dee atau yang lebih dikenal sebagai Dewi Lestari, mantan personil grup vocal RSD, Rida, Sita, Dewi, yang sekarang lebih fokus ke karir barunya sebagai penulis, novelis, dan cerpenis. Tak banyak selebriti yang mampu bertahan lama di dalam dunia tulis menulis, berbeda dengan Dee. Dee, selebritis multitalent, nyanyi Ok, menulis Jagonya, tapi belum saya lihat aksi Dee dalam dunia perfilman.
Kembali ke karya Dee, dalam kata pengantarnya Dee menuliskan sebagaimana lazimnya awal dari sebuah karya kreatif, Dee kerap memulai proses berkarya dengan bertanya. Tidak dipungkiri bertanya adalah mencari jawaban, kembali ke konsep filsafat pencarian tadi. Descrates pernah bilang bahwa seseorang tidak akan melakukan sesuatu yang lebih berguna lagi, kecuali mencari satu kali, dengan tekun, terus menerus. Inilah yang dilakukan seorang Dee dalam tiap karyanya.



Ide Sederhana, Dikemas Elegan
            Bukanlah hal mudah mengemas ide sederhana menjadi sebuah karya yang elegan, tapi disanalah letak tantangan menjadi seorang pengarang yang karyanya membuat pembacanya susah lupa, bahkan melekat di hati, memuaskan dahaga jiwa yang gersang kerontang akibat laju tuntutan hidup.
            Sejenak membaca Madre, kita akan memasuki bekas sebuah toko roti tua tanpa plang di daerah Jakarta tua. Dari sinilah bermula kisah seorang pria keturunan India bernama Tansen Roy Wuisan yang hidup bebas di Bali sebagai freelancer yang tiba-tiba mendapat warisan dari seorang pria tua berdarah Tionghoa bernama Tan Sin Gie. Cerita pun berlanjut membawa pembaca menelusuri jejak pencarian silsilah keluarga Tansen yang sebenarnya. Hingga Tansen dalam keterkejutannya, sebagai seorang blogger, menuliskan di blog-nya. “Apa rasanya sejarah hidup kita berubah dalam sehari? Darah saya mendadak seperempat Tionghoa, nenek saya ternyata tukang roti, dan dia bersama kakek yang tidak saya kenal, mewariskan anggota keluarga yang tidak pernah saya tahu: Madre”. (hlm. 18). Setelah membaca Madre, tukang roti yang lewat ingin segera memborong semua roti-rotinya.
Madre adalah buku yang menyajikan kumpulan cerpen, puisi, serta prosa pendek karya Dewi Lestari. Ini adalah buku ketujuhnya setelah trilogi Supernova, Filosofi Kopi, Recto Verso, dan Perahu kertas.           
Terdiri dari 13 karya fiksi dan prosa pendek. Ulenan adonan kisahnya menyajikan berbagai tema: perjuangan sebuah toko roti kuno pada judul Madre,  tentang seorang laki-laki yang mencari jawaban atas sebuah tanya yang ia tidak tahu pasti, tema ini terdapat pada cerpen Have You Ever, yang saya membacanya cukup mengkerutkan kening supaya mengerti, maksud Dee menulis cerpen ini apa, selain itu juga ada cerpen berjudul Semangkuk Acar untuk Cinta dan Tuhan, di cerpen ini lagi-lagi Dee piawai sekali dalam menarik sebuah perenungan dari semangkuk acar hingga pembaca dibawa menelusuri makna pencarian akan cinta dan Tuhan hanya dari semangkuk acar. Kok bisa? Bahkan Dee juga menyisipkan tema reinkarnasi dan kemerdekaan sejati. Silahkan menikmati cerpen dan prosa dari seorang Dee!

*Resensor adalah mahasiswa IAIN SU dan bergiat di FLP Sumut

#Tulisan ini telah dimuat di Harian Medan Bisnis 25 Maret 2012


Menjadi Generasi Pengusaha Berjiwa Filantropi, Mungkinkah?*

/ / 0 Comments
Menjadi Generasi Pengusaha Berjiwa Filantropi, Mungkinkah?*
‘Wahai ahli qira’ah, berlomba-lombalah dalam kebaikan dan carilah karunia dan rezeki Allah, dan janganlah kalian menjadi beban hidup orang lain’ –Umar bin Khattab, RA.
Jika anak TK hari ini ditanyakan tentang apa cita-cita mereka ketika sudah besar nanti, maka jawaban klise akan bermunculan, ada yang kekeuh ingin menjadi dokter, guru, presiden dan lain sebagainya, namun adakah anak TK hari ini yang dididik orangtuanya agar cita-citanya suatu saat nanti ingin menjadi pengusaha?.

Pengusaha, kata ini masih menimbulkan asumsi berbeda bagi banyak orang. Maklum, status pengusaha, masih menjadi strata yang cukup bergengsi di negeri ini, sehingga membuat orang tidak berani menjadi pengusaha. Menjadi pengusaha berarti harus memikirkan bagaimana perhitungan kelayakan usaha yang akan dibuat, pesaing yang akan dihadapi nantinya, ketakutan jika tidak bisa menguasai teknis, jika modal tidak cukup, kesulitan cari lokasi usaha dan peralatan pendukung usaha, susahnya merekrut karyawan,  jika usaha sudah dimulai, bagaimana memasarkannya, bagaimana nanti jika gagal, dan segala kata bagaimana nanti, seandainya jika? Itu semua hal yang selama ini mungkin telah mematikan karakter sebagian anak bangsa ketika hendak berwirausaha atau bercita-cita ingin menjadi pengusaha.

Definisi pengusaha itu sendiri menurut ensiklopedia bebas Wikipedia.com, pengusaha atau pebisnis adalah sebutan bagi orang-orang yang terlibat dalam usaha-usaha yang bertujuan menghasilkan laba, umumnya dalam pengelolaan sebuah perusahaan. Sedangkan yang disebut dengan perusahaan adalah tempat terjadinya kegiatan produksi dan berkumpulnya faktor-faktor produksi. Sekilas pembaca saya ajak kembali ke zaman sekolah pada mata pelajaran ekonomi, faktor produksi adalah sumber daya yang digunakan dalam sebuah proses produksi barang dan jasa, misalnya tenaga kerja, modal, sumber daya fisik dan kewirausahawan dan juga sumber daya informasi. Sebenarnya berdasarkan definisi pengusaha di atas, penjual gorengan saja sudah bisa disebut pengusaha. Gampang ya? Namun kenapa masih banyak yang memilih menjadi pegawai atau malah pengangguran?.

Hari ini, mereka yang mengikrarkan diri menjadi seorang pengusaha di Indonesia masihlah sedikit, hal ini diperkuat oleh Ir.  Ciputra, seorang tokoh pengusaha properti yang cukup sukses di Indonesia, ia menyatakan bahwa dari 240 juta penduduk Indonesia, baru sekitar 400 ribu yang memilih profesi sebagai pengusaha atau sekitar 0.18 %. Jauh sekali perbandingannya dengan Singapura yang sudah mencapai 7,2 % dan Amerika Serikat sekitar 11.5% (www.ugm.ac.id).

Berikut saya akan mengisahkan betapa beruntungnya mereka yang memilih menjadi pengusaha sebagai profesi yang menjanjikan dunia akhirat. Alkisah, suatu saat nanti di depan pintu syurga, berdirilah seorang dosen, seorang dokter dan seorang ulama. Mereka mengantri di depan pintu agar bisa masuk surga. Selama mengantri mereka sibuk mengungkit jasa selama di dunia, adalah dosen yang telah mendidik banyak mahasiswa, dokter yang merasa berjasa  telah menyembuhkan banyak orang sakit. Si ulama telah membimbing banyak orang yang berdosa. Mereka rebutan.
Tiba-tiba datang pengusaha. Lalu si dosen berkata, ‘Nah, ini dia pengusaha kita!, ialah yang membangun kampus tempat saya mengajar. ‘Ia juga yang membangun klinik tempat saya praktek’, kata si dokter. ‘Oh, ya ia juga yang membangun rumah ibadah, tempat saya berceramah’. Akhirnya mereka bertiga mempersilahkan si pengusaha memasuki surga lebih dulu. Nah, ini sekadar anekdot yang dikarang Ippho Santosa, seorang pakar otak kanan sekaligus pengusaha dalam bukunya 7 Keajaiban Rezeki.

Sekali lagi apa yang menghalangi kita untuk menjadi pengusaha?, toh, Nabi Muhammad saja juga menjadikan dirinya pengusaha.

Pengusaha: Solusi Pengangguran
Kemiskinan dan pengangguran sudah seperti dua sisi mata uang yang terus menerus menjadi momok mengerikan bagi Negara Indonesia tercinta. Sekarang saja berdasarkan tulisan Yudhistira Anm Massardi dalam opininya berjudul Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat (Kompas, 8 April 2011) menuliskan bahwa ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur. Jumlah pengangguran itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu rata-rata lebih dari 1.5 juta siswa setiap tahun. Faktanya lagi bahwa dari sekitar 105 juta tenaga kerja yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik diploma 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang. Jadi, untuk apa sebenarnya generasi penerus bangsa bersekolah tinggi?. Menurut Ippho, teori menjadi pengusaha hampir tidak pernah diajarkan di sekolah. Di sekolah, hal yang sangat dihargai dan dipuja adalah kehebatan dari Nilai Indeks Prestasi Kumulatif. Padahal kenyataannya, yang sangat dihargai adalah Indeks Pendapatan Kumulatif. Inilah yang menyebabkan generasi tamat sekolah tinggi setelah tamat hanya satu yang dipikirkan yakni bagaimana agar mendapat pekerjaan tetap, bukan tetap bekerja (wirausaha). Berkaca dari sistem pendidikan Yahudi, sejumlah kampus di Israel mengharuskan mahasiswa mereka khususnya mahasiwa dari fakultas ekonomi untuk menggarap suatu proyek bisnis di akhir tahun perkuliahan. Bekerja secara berkelompok, mereka hanya bisa lulus kalau proyek tersebut mampu mencetak laba satu juta dolar atau jika dirupiahkan sekitar Rp. 9 milyar. Indeks Pendapatan Kumulatif, bukan?, wajar jika hari Yahudi, adalah bangsa yang paling berkuasa atas kendali perekonomian dunia.

Bila saja diketahui bahwa menurut Ir. Ciputra lagi, sebenarnya masalah kemiskinan dan pengangguran bisa teratasi setidaknya diperlukan 4 juta pengusaha baru di negara kita. Hitung-hitungannya jika dari 4 juta pengusaha masing-masing membutuhkan 10 tenaga kerja saja, berarti akan ada 40 juta orang yang dipekerjakan. Wow!

So, saat ini dari 400 ribu pengusaha yang ada di Indonesia, maka masih tersisa lowongan kerja menjadi pengusaha sekitar 3,6 juta. Andakah itu?. Semoga, dengan begini persepsi otak kiri yang berlebihan tentang semakin tinggi jenjang pendidikan semakin mudah mendapatkan pekerjaan, segera sirna!, yang ada adalah persepsi otak kanan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan semakin mudah menuju generasi pencipta lapangan kerja.

Pengusaha Berjiwa Filantropi
Seorang bijak pernah berkata sebenarnya menghirup dan menghembuskan udaralah yang membuat kita sehat. Menghirup tanpa menghembuskan akan membuat kita sakit. Mengambil itu seperti menghirup. Memberi itu seperti menghembuskan. Maksudnya adalah menjadi pengusaha tidak cukup dengan urusan memutar mutar uang lalu bimsalabim uang itu akan bertambah bertambah dan bertambah hingga tujuh turunan dipastikan tidak akan habis, namun dibalik usaha kita, dibalik apa yang kita peroleh dari hasil yang kita usahakan, ternyata ada hak orang lain juga disana. Ruh the power of giving harus ada pada diri setiap pengusaha, jika tidak begitu dapat dipastikan usahanya akan mandeg, ibarat kita menghirup namun kesulitan untuk mengeluarkannya kembali dan yang ada malah menjadi penyakit.
Filantropi, mungkin kata ini masih asing di telinga kita, namun bagaimana dengan istilah zakat, infak, shadaqah? Kegiatan ini sudah berlangsung sejak masa Nabi Muhammad SAW yang digunakan untuk pengelolaan uang umat saat itu.

Istilah Filantropi sendiri berasal dari bahasa Yunani, philein, ‘cinta’ dan anthropos, ‘manusia’, Jadi, filantropi adalah kegiatan cinta kemanusiaan. Menurut, Ahmad Juwaini—Direktur Eksekutif Dompet Dhuafa dalam Seminar Nasional Entrepreneur bertajuk Filantropi dan Bisnis Sosial: Potensi dan Karir yang Tersembunyi di IAIN SU (26/05), Filantropi adalah kesadaran untuk memberi dalam rangka mengatasi kesulitan dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.

Usaha yang kita miliki bukan semata usaha untuk memperkaya diri tapi juga berorientasi untuk berbagi terhadap sesama. Belum ada sejarahnya pengusaha kaya raya rajin berfilantropi lalu jatuh miskin. Faktanya, Abdurrahman bin Auf—sahabat  Nabi Muhammad SAW yang punya 700 kendaraan niaga, namun masih bisa mewasiatkan 400 dinar dan 1000 kuda kepada pejuang islam ketika ia meninggal. Bill Gates dan Warren Buffet—dua orang terkaya di muka bumi, ternyata mereka adalah dermawan terbesar abad ini, begitu juga dengan Donald Trump, dalam kebankrutannya pada 1990-an dia malah membagi-bagikan hartanya, karena ia percaya, memberi itu berbanding lurus dengan diberi.

Adalah hal yang mungkin menjadi generasi pengusaha berjiwa filantropi di negeri kita yang gemah ripah loh jinawi ini, jika kita bisa lebih menguatkan mata hati dan ide brilian untuk menciptakan mata pencaharian bagi sesama.

*Tulisan ini menjadi Runner Up dlm Lomba Menulis Kreatif II yang diadakan oleh Djalaluddin Pane Foundation* (14 Juni 2011)

Refleksi Revolusi Jilbab

/ / 1 Comments
Refleksi Revolusi Jilbab
Saat itu bulan Juli 2009 masih ranum-ranumnya, namun suasana tersebut tidak cukup mewakili apa yang terjadi di ruang pengadilan kota Dresden, Jerman. Marwa Al-Sharbini, muslimah asal Mesir akan memberikan kesaksian atas tindakan rasial yang dilakukan Alex Wiens, pemuda Jerman pengidap Islamofobia keturunan Rusia, terhadap Marwa karena Alex berulangkali menyerang Marwa hanya karena Marwa mengenakan jilbab. Atas tuduhan itu, Alex ditahan dan 1 Juli 2009 adalah sidang pertamanya. Lalu kejadian mengenaskan itu pun terjadi. Di ruang pengadilan, belum sempat Marwa memberikan kesaksiannya, Alex menyerang Marwa dan menusuk ibu satu anak itu sebanyak 16 kali hingga Marwa yang saat kejadian sedang hamil tiga bulan, meninggal dunia. Sedang Suami Marwa, Elwi Ali berusaha melindungi istrinya tapi justru ditembak oleh polisi yang menjaga sidang tersebut.



Apa yang dialami Marwa yang rela syahid demi hijabnya tentu menjadi bahan refleksi buat kita semua para muslimah. Lalu bagaimana keadaan muslimah hari ini dengan jilbabnya?.

Sedikit flashback sebelum pemakaian jilbab bisa semarak hari ini, pada era 80-an terjadi peristiwa Revolusi Jilbab di Indonesia. Revolusi besar-besaran yang mengubah sisi kehidupan masyarakat Indonesia secara drastis. Setiap revolusi terjadi karena beberapa faktor, dari internal sendiri secara singkat penulis paparkan bahwa revolusi menyeruak sebab diberlakukannya SK 052/6/KEP/D/8 oleh pemerintah orde baru pada 17 Maret 1982 melalui departmen pendidikan, yang mengatur bentuk dan penggunaan seragam sekolah di sekolah-sekolah negeri. SK tersebut tidak mengakomodir penggunaan seragam sekolah lain khususnya busana muslimah. Berdasarkan SK itu mulailah merebak para siswi berjilbab di sekolah-sekolah negeri, SK itu seolah pemicu yang memotori dan membulatkan tekad para siswi untuk menunjukkan identitas muslimahnya. Peristiwa demi peristiwa terus bergulir, semangat keberislaman di kalangan pelajar dan mahasiswa mulai menampakkan geliat yang berarti. Namun, semangat keberislaman tidak luput dari tantangan demi tantangan, malah kasus pelarangan jilbab makin gencar. Saking gencarnya, demi sebuah idealisme beberapa siswi yang bersekolah di salahsatu sekolah negeri di Jakarta pusat terpaksa drop-out sekolah daripada harus melepas jilbab. Aksi drop out ini malah makin menambah siswi jilbaber dan kasus pelarangan jilbab merembet ke beberapa provinsi di Indonesia pada tahun ajaran 1987/1988. Hingga akhirnya MUI dan beberapa organisasi Islam saat itu ikut campur tangan dan sampailah masalah ini ke meja hijau, dengan berbagai pertimbangan, beberapa sekolah seperti SMAN 1 Bogor dan SMAN 68 Jakarta Pusat yang melaporkan para sisiwi berjilbab ke pengadilan, akhirnya meminta maaf kepada siswi mereka dan mengizinkan mereka bersekolah kembali tanpa harus melepas jilbab.

Apakah perjuangan berhenti sampai disitu saja? Ternyata tidak, seperti efek domino, seolah semua masyarakat saat itu sepakat untuk mendukung isu pelarangan jilbab, mulai dari penyebaran black campaign jilbab beracun yang bertujuan menjatuhkan mental muslimah yang baru berjilbab secara kaffah, lalu ada peristiwa penelanjangan muslimah berjilbab karena dituduh mencuri permen dari sebuah toserba sampai peristiwa pengeroyokan massal terhadap muslimah hingga nyaris meninggal karena dituduh sebagai penebar racun. Masyarakat yang termakan berbagai isu hingga akhirnya beralih menjadi simpati karena semua tuduhan mereka tidak benar dan pembelaan terhadap muslimah berjilbab terus mengalir.

Sekarang zaman berganti, perjuangan memakai jilbab tidak seekstrim pada tahun 80-an khususnya di Indonesia, namun bukan berarti eksistensi jilbab tidak akan mendapat tantangan apapun. Terbukti dari peristiwa yang dialami Marwa, islamofobia masih bersarang dibeberapa masyarakat. Disinilah perjuangan kita, wahai para muslimah. Tantangan berbeda tentu bentuk perjuangannya pun berbeda.

Jilbab: Samurai-nya Muslimah
Betapa sayangnya Allah, ketika perintah berjilbab langsung dariNya. Dia berfirman:
يَآأَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَآءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلاَبِيبِهِنَّ ذَلِكَ أَدْنَى أَن يُعْرَفْنَ فَلاَ يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min:”Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. 33:59).

Tidak lain tidak bukan, Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambanya. Allah turunkan perintah berjilbab karena Allah sudah berjanji dengan berjilbab seorang muslimah beriman lebih mudah dikenal (identitasnya) dan tidak diganggu.
Dengan berjilbab, seorang muslimah merasa bebas. Jilbab adalah simbol kebebasan bagi seorang muslimah. Bebas dari pendangan orang yang kebanyakan hanya memandang secara fisik, berat badan, dan apa yang kelihatan dari diri kita. Dengan berjilbab, orang hanya berfokus pada isi otak/pengetahuan kita, kepribadian kita. Seorang muslimah juga bebas dari lelaki yang bernafsu padanya serta bebas memilih siapa yang akan bisa dan tidak bisa melihat auratnya.

Seorang penyair bernama Soni Farid Maulana sampai berkomentar tentang manfaat luarbiasa dari muslimah berjilbab, seperti pedang bagi samurai, begitulah jilbab sebagai jalan hidup bagi muslimah.

Pencerdasan dalam Berjilbab

Jilbab membuat muslimah mendapatkan berpaket-paket kebebasan, namun akankan kebebasan yang didapat sejalan dengan gaya berjilbab kita yang bebas juga?.

Ada banyak ragam desain jilbab yang bermunculan saat ini, setiap pengusaha busana muslim berlomba-lomba menciptakan produk jilbab unggulan mereka, lalu bagaimana standar jilbab yang syar’i, agar muslimah tidak salah kaprah dalam memakai jilbab?.

Jilbab tidak sama dengan kerudung. Jilbab adalah pakaian keseluruhan yang kita pakai untuk menutup aurat (QS. Al-Ahzab:59), sedangkan kerudung (khimar) adalah apa-apa yang dapat menutup kepala (QS. An-Nur:33).

Perintah Allah diatas ditegaskan lagi oleh Nabi Muhammad S.A.W. dalam hadist beliau yang artinya : "Wahai Asma! Sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah cukup umur, tidak boleh dilihat seluruh anggota tubuhnya, kecuali ini dan ini, sambil Rasulullah SAW menunjuk muka dan kedua tapak tangannya".

Jika hari ini kerudung masih menggantung dan melilit di leher akan lebih indah lagi jika diulurkan hingga ke dada, jika hari ini jilbab kita masih nge-press sana sini, jangan sampai kita seperti seonggok daging berjalan daripada kelihatan seperti manusia seutuhnya. Dan menjadi ladang dosa bagi sesiapa yang tergoda gara-gara melihat jilbab kita yang kurang sempurna. Niat hati ingin berjilbab, namun tidak sempurna, sayang bangetkan?. Kalau ada yang sempurna kenapa harus setengah-setengah?.

Islam datang untuk membebaskan muslimah dari perbudakan, dari status penduduk kelas dua. Namun, dalam Islam laki-laki dan perempuan itu sama di mata Allah hanya tingkat ketakwaannya saja yang membedakan. Belum lagi, penghargaan Islam kepada muslimah hingga Rasululullah bersabda bahwa ada surga di bawah telapak kaki ibu, ini menunjukkan betapa muslimah begitu diistimewakan dalam Islam. Lain hal dengan kaum feminis yang hanya melihat Islam dari jauh, bahwa muslimah itu bakal terpenjara dalam balutan pakaian takwanya. Kenyataannya tidak, muslimah justru makin leluasa dalam mengembangkan potensi positifnya untuk diri, keluarga dan ummat.

Dulu saat para muslimah susah payah mendapatkan haknya menutup aurat, perjuangan yang begitu panjang, perlawanan yang tidak ada habis-habisnya dari berbagai penjuru, sampai diusir, dikucilkan, dibotak, dan lain-lain. Sampai akhirnya berujung indah. Beberapa sekolah sudah ada peraturan mewajibkan siswinya memakai jilbab dan efek positif lainnya. Diharapkan kita yang dilahirkan pasca revolusi jilbab dalam lebih memaknai arti eksistensi jilbab itu sendiri bagi muslimah sejati. Jangan sampai apa yang diperjuangkan muslimah sebelumnya di masa revolusi jilbab menjadi sia-sia hanya karena pengaruh westernisasi yang mengusung pemikiran feminis yang membuat kerudung makin lama makin pendek, jilbab makin ketat, moral makin tidak pada tempatnya dan harga diri muslimah makin tak ada. Naudzubillah summa naudzubillahi min dzalik.

Selamat Hari Hijab Sedunia, 1 Juli 2009-1 Juli 2011. Mengenang Marwa El-Sharbini ‘Sang Martir Jilbab’.

*Tulisan ini dimuat diharian Analisa pada 8 Juli 2011. Tulisan ini terpotong dibeberapa bagian dan ini versi lengkapnya. Semoga bermanfaat dan jadi bahan selfreminder juga buat diri penulis scra pribadi :). Dan untuk Teh Marwa mudah2n syahid dan dilapangkan kuburnya Aaamiin!

UJIAN: SEBUAH PERAYAAN TERHADAP ILMU

/ / 1 Comments
UJIAN: SEBUAH PERAYAAN TERHADAP ILMU


“Ujian adalah sebuah hari besar keramat ketiga setelah Idul Adha dan Idul Fitri
–A.Fuadi: Novel ‘Negeri 5 Menara-”

Kalimat sakti di atas saya kutip dari novel yang sukses dengan mantra Man jadda wa jada-nya Negeri 5 Menara yang dikarang oleh A. Fuadi. Jika Anda sudah baca novel tersebut, pasti Anda sudah tahu dengan isi salahsatu bab dari novel ini yang berjudul Festival Akbar. Festival yang dimaksud adalah perayaan meriah dalam menyambut ujian marathon selama 15 hari. Pada bab ini pengarang mendeksripsikan bagaimana pihak Pondok Madani menyulap area pesantren dengan berbagai ornament festival. Beberapa baliho dipasang di sekitar pesantren, di depan aula, di sekitar masjid dan di sudut-sudut lain. Tulisan “Ma’an Najah,”Semoga sukses dalam ujian dalam bentuk poster dan selebaran dapat ditemukan di ruang kelas, asrama, kantin, di pohon-pohon, bahkan di lapangan-lapangan olahraga. Bisa dibayangkan apa yang terjadi dan energi yang mengandung semangat menyambut ujian mengalir di tubuh santri jika momen ujian disambut pesta akbar, meriah seperti meriahnya momen piala dunia atau momen Liga AFF kemarin, dimana-mana warna merah menyeruak tumpah di sudut-sudut stadion Gelora Bung Karno.

Inginnya atmosper seperti ini juga yang turut diciptakan pihak-pihak lembaga pendidikan ketika merayakan ujian semester. Dengan begitu, itulah momen sebenarnya seorang pencari ilmu untuk membuktikan bahwa jerih payah belajar selama ini mendatangkan hasil setimpal, yaitu meresapnya ilmu tadi sampai ke sum-sum.

Ujian: Cara Elegan Merayakan Ilmu

Ujian, mendengar kata yang terdiri dari lima huruf ini seperti mendengar kabar buruk di siang bolong. Segeralah stress melanda, kepanikan merajalela, dan berharap waktu melambat agar hari yang bersejarah itu tidak segera tiba.
Lalu, bagaimana seharusnya seorang akademisi khususnya siswa yang sudah mendapat predikat maha, alias mahasiswa menghadapi ujian semester?.
Ujian diperlukan untuk mengetahui sejauhmana kemampuan mahasiswa dalam menguasai suatu mata kuliah yang telah diajarkan oleh dosen yang bersangkutan. Tentu semua mahasiswa berharap nilai ujiannya memuaskan. Tapi tidak banyak yang tahu, strategi apa yang diperlukan dalam menghadapi ujian itu, sehingga banyak mahasiswa masih menggunakan trik-trik kuno yang kebanyakan bersifat merugikan bagi mahasiswa lainnya.

Oleh karena itu, kali ini sedikit tips dalam mengerjakan/menghadapi ujian semester bagi mahasiswa yang merasa kesulitan terhadap suatu matakuliah tertentu. Tips itu adalah :


• Minta Izin kepada Pemilik Ilmu
Setelah sebelumnya sudah mempersiapkan diri dengan belajar. Bermohon kepada sang pemilik ilmu untuk memudahkan dalam mengerjakan ujian. Ikhlaskan segala keputusan kepada Allah SWT agar terhindar dari stress.
• Dukung dengan Gizi Cukup. Jangan remehkan masalah makan memakan, karena hal ini cukup berpengaruh dengan kondisi tubuh. Gizi yang cukup berguna menyiapkan stamina dalam menghadapi ujian.
• Wajib Percaya Diri. Yakinkan diri bila sudah siap tempur dan dapat mengerjakan ujian dengan baik. Tenang dan percaya diri.
• Siapkan Alat Tempur dan Amunisi. Bawalah semua alat tulis yang diperlukan, jangan sampai ketinggalan satu pun dan juga membawa persyaratan ujian. Perlengkapan ini akan membantu untuk tetap konsentrasi selama mengerjakan ujian. Diharamkan untuk pinjam meminjam dengan teman sebelah, karena akan sangat mengganggu.
• Datanglah 15 menit sebelum ujian dimulai. Hal ini sangat membantu karena member kesempatan kepada diri untuk menenangkan diri dan tidak panik. Beda sekali jika seorang mahasiswa dating terburu-buru ke lokasi ujian, dia akan panic dan membuat berbagai kekacauan.
• Jawab soal-soal ujian dengan taktis. Mulailah dengan menjawab pertanyaan mudah yang diketahui, kemudian dengan soal-soal yang memiliki nilai tertinggi. Pertanyaan terakhir yang dikerjakan adalah soal paling sulit, soal yang membutuhkan waktu yang lama untuk menulis jawabannya dan soal-soal yang memiliki nilai terkecil.
• Saat mengerjakan soal ujian esai, pikirkan dulu jawabannya sebelum menulis.
• Sisihkan 10% waktu untuk memeriksa ulang jawaban yang telah dibuat.
• Akhiri ujian dengan manis dan katakan Alhamdulillah. Serahkan hasilnya pada Allah SWT.

Mungkin beginilah seharusnya ujian disambut, sebuah perayaan terhadap ilmu Fuadi. Jika ilmu dirayakan seperti yang dilakukan di Pondok Madani seperti yang diceritakan oleh A., hikmahnya adalah agar sekali-kali kita tidak pernah takut apalagi trauma dengan ujian, tercipta generasi yang anti terhadap tekanan ujian, dan bahkan bisa menikmati ujian itu. Apalagi ujian akan terus datang dalam berbagai rupa sampai nafas berakhir di ujung kerongkongan.

Selamat Menempuh Ujian!

*Penulis adalah mahasiswa Fak. Tarbiyah/PBI/ VII, penulis buku non-fiksi Gue Gak Cupu dan bergiat di FLP Sumut serta LPM Dinamika IAIN SU.

BUDAYA PELECEHAN KATA PADA ANAK

/ / 0 Comments
Saya dan Game on-line
Tidak jauh dari rumah saya berdiri sebuah bangunan rumah yang membuka jasainternet dan menawarkan games on-line, browsing internet, rental computer dan lain-lain. Tentunya saat ini jasa yang paling difavoritkan dari warnet adalah games on-line dan kebnyakan penggunannya adalah anak-anak. Di sini saya tidak akan membahas dampak positif dan negative games on-line pada anak secara detail, hanya saja saya membahasnya dari segi moral dan akhlak anak-anak yang sedang main games on-line tersebut.

Saat saya sedang browsing internet di warnet tersebut, telinga saya suka risih dengan sahutan yang dikeluarkan anak-anak yang bermain game di sebelah kiri, kanan dan belakang saya (bentuk tata letak komputernya letter U). Ynag membuat saya risihdari sahutan mereka saat memanggil teman mereka adalah penyebutan nama bintang semisal (maaf) anjing, dan pelecehan kata lainnya yang mungkin kerapkali kita dengar.

Awalnya saya tidak tahu, kenapa anak yang di sebelah saya, menyahut temannya yang juga bermain game diseberang tempat saya duduk. Ternyata game yang mereka mainkan sama. Kalua istilah saya ‘main dua’, game yang mereka mainkan adalah game perang-perangan. Jadi ceritanya, mereka dalam game itu seolah-olah jadi tentara yang menembaki musuh-musuhnya dan singkat cerita salah satu teman mainnya tertembak musuh dan teman mainnya yang satu lagi tidak tertembak. Temannya yang tertembak musuh menyahut, “Hey (maaf) Anjing, kok gak kau tembak musuhnya?, jadi mati aku kan?. Waduh, kuping saya panas mendengarkannya. Untuk mengekspresikan rasa tidak suka saya terhadap perkataan si anak disebelah saya itu, saya langsung meloto ke ara anak itu dan berkata “Yang sopanlah dek ngomongnya”, lalu jawabnya “Oya kak, maaf ya kak”.

Pendidikan Orang Tua Di Rumah: Salah satu Penyebabnya.
Mungkin masih banyak contoh nyata lainnya di sekitar kita. Mungkin di rumah misalnya, orang tua juga suka menyahut dan memanggil anaknya dengan menggunakan pelecehan kata-kata sehingga anak pun belajar dari orang tua untuk mengatakan hal yang sama pada teman-temanya, saudaranya dan bahkan orang tuanya sendiri. Selain itu lingkungan tempat anak tinggal, teman sepermainan anak, atau juuga teman sekolah si anak. Pada saat orang tua tidak bersama si anak untuk mendampingi, maka anak dapat belajar hal apapun di luar sana.

Bahkan tanpa kita sadari, kita juga sering mendengarkan, baik itu kita mendengarkannya di televisi yang menayangkan sinetron-sinetron dengan dialog para pemainya juga mendengarkannya di film-film yang diputar di bioskop dan menggunakan kata-kata yang melecehkan, kata-kata yang tidak sopan untuk diucapkan, seperti, Bodoh, Tolol, mampus dan lain-lain.

Dan jika hal ini terus dilakukan, terus diperdengarkan pada anak akan berdampak buruk terhadap kejiwaan anak.

Menurut Dr. Dorothy Law Notte yang dikutip oleh Jalaluddin Rahmat dalam “Psikologi Komunikasi”-nya.
Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki
Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri
Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar menyesali diri
Jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri
Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar manghargai
Jika anak dibesarkan dengan dorongan ia belajar percaya diri

Jadi, jangan salahkan anak Anda yang tidak tahu apa-apa, ia hanya merekam dan mengaplikasikannya apa yang dia lihat, dia dengar dan dia rasakandari perilaku orang tuanya sehari-hariyang lebih suka mendiidk dengan teriakan, dengan memanggil anak dengan sebutan yang tidak baik akan berbalik memaki dan manghina Anda suatu hari dan itu berarti Anda tururt menghancurkan moral dan akhlak anak Anda dengan pelecehan kata-kata yang Anda ucapkan pada anak Anda.

Bagaimana Jika Anak terlanjur berkata-kata negative?
Pertanyaan ini akan terjawab bila Anda sebagai orang tua yang sebelumnya mendidik anak dengan menggunakan teriakan pada anak yang tidak mematuhi Anda, dan mengucapkan kata-kata negative terhadap anak yang adalah suatu hal yang mungkin bahwa kata-kata negative yang Anda tujukan pada anak Anda sendiri adalah mengandung doa buat anak Anda alias mendoakan anak Anda sesuai seperti yang Anda ucapkan pada anak Anda, adalah menyadari efek negative kepada jiwa anak sampai dia beranjak dewasa jika ucapan-ucapan negate Anda pada anak tidak dihentikan. Tapi, bila Anda bukan tipe orangtua yang seperti itu, namun anak Anda mengucapkan kata-kata negative saat dia emosi, berarti anak Anda yang perlu dididik, diajarkan dan diarahkan untuk idak mengucapkan kata-kata negative itu lagi.

Terkadang orang tua terlalu keras dalam mendidik anak. Dalam kasus mengatasi anak yang suka berkata negative, orang tua suka mengancam dengan akan memasukkan cabe rawit ke dalam mulut anak Anda dan ada juga orang tua yang rinagntangan dengan melayangkan tanan Anda dan mendarat keras di mulut anak supaya anak jera. Tapi hal itu, tidak akan menyelesaikan masalah dalam jangka panjang, tapi hanya menyelesaikan masalah pada saat itu jga, artinya bahwa anak Anda memang tidak mengucapkan kata negative di depan Anda atau di dekat telinga Anda tapi, anak akan mengucapkanya di luar pengawasan Anda dan tentu solusi-solusi seperti memasukkan caber rawit ke mulut anak atau memukul dan menampar, adalah tidak mendidik tapi menyakitkan buat anak dan tidak membuat efek jera jangka panjang, bahkan komunikasi antara Anda dan anak akan rusak, anak seolah-olah merasa orang tua telah menciptakan jarak yang sangat jauh antara anak dan orangtua karena tindakan Anda yang seperti itu.

Menurut buku yang berjudul “Disiplin Tanpa Teriakan dan Pukulan” yang ditulis oleh Jerry Wyckoff, Ph.D dan Barbara C. Unell.

Yang harus dilakukan saat anak Anda membantah atau mengucap kata-kata negative:

Suruh anak Anda mengucapkan kata-kata itu secara berulang-ulang hingga lelah.
Suruh ia mengulang-ulang perkataan salah itu selama 3 menit (jika usia si anak 3 tahun) untuk tiap-tiap tahun usia. Katakan: “Ibu prihatin kamu mnegucapkan kata-kata itu. Ibu akan menyetela pengatur waktu. Kamu harus mengucapkan kata-kat itu sampai pengatur waktu berbunyi, setelah pengatur waktu berbunyi, kamu boleh berhenti mengucapkannya”. Hal ini akan membuat efek jera pada anak bahwa apayang diucapkannya berulang-ulang benar-benar tidak enak diucapkan, tidak enak didengar, sehingga anak enggan mengucapkannya lagi.
Pujilah perkataannya yang baik. Pujian adalah hal yang disukai anak-anak. Dengan memuji perkataannya yang baik, ia belajar bahwa dengan berkata baik lebih disukai, lebih sopan dan lebih enak didengar.

Penulis adalah seorang guru mengaji di sebuah majlis ta’lim, biasanya kiat penulis untuk mengatasai anak untuk tidak berkata negative yakni Jika anak kedapatan oleh telinga saya telah berkata negative, saya akan menyuruhnya berdiri dan beristigfar 15 kali dengan suara keras dan terdengar oleh saya, dengan begitu anak belajar memohon ampun pada Allah karena telah khilaf berkata negative kepada temannya, begitu setiap kali anak murid saya kedapatan berkata negative atau juga solusi lain yang saya dapat dari dosen saya saat mendidik anaknya yang berkata negative yakni dengan menyuruh si anak memukul mulutnya sendiri dengan begitu si anak belajar menghukum diri sendiri tanpa harus orangtua yang memukul mulut si anak yang terkadang menyakiti si anak.

Memang universitas yang membuka jurusan Parenting atau jurusan Menjadi orangtua yang baik, tidak ada, tapi bukan berarti kita sebagai orang tua menutup diri untuk terus belajar untuk menjadi orang tua yang baik untuk anak-anaknya. Sekarang ada banyak media yang membahas tentang parenting, seminar parenting, konsultasi dengan psikolog anak dan lain sebagainya. Anak kita hidup di zaman yang berbeda dengan zaman waktu para orangtua menjadi anak-anak dan satu hal lagi anak kita bukan duplikat kita saat menjadi anak-anak, anak kita adalah anak-anak, untuk itu pola pendidikan pun juga sedikit banaykanya memiliki perbedaan denga pola pendidikan orangtua zaman dulu.
Powered by Blogger.