Beberapa hari lalu
daku bersilaturahim ke tempat kerja yang lama ^_^, sesampainya disana
teman-teman pada asik makan gorengan, sedangkan daku harus segera menyelesaikan
masalah yang terkait dunia akhirat hehe, jadi disela-sela penyelesaian masalah,
seorang teman yang berada di ruangan tersebut nyeletuk,
‘Zee, makan gorengan
yuk, tapi gak usahlah ya’
Awalnya, senang
banget ditawari gorengan, soalnya belum makan siang, hehe :D tapi mendengar
kata ‘tapi, gak usahlah ya’ itu mendadak kenyang perutku hehe
‘Oh ya silahkan,
dilanjutkan, daku masih harus nyelesain ini dengan Ra’
Sama dengan kalimat begini, udah gak lama jumpa ini ceritanya, jadi pas 'say hello'
'Lah Zee, ngapain kesini, ini kan rumah kami' #oppp
Hehe, cukup tahu sudah ^_^, bila begitu, mungkin dengan tidak mengiinjakkan kaki kesana lagi menjadi solusi yang baik buat kita semua
----
Well,
semoga pembaca bisa ambil hikmahnya ya, :D aku pun belajar dari peristiwa
tersebut, lidah ini kalau tidak dijaga, kemudian tidak dipikirkan apa yang
hendak disampaikan, maka akan merusak komunikasi.
Dalam becanda, begitu
juga, hmm… Mungkin temanku itu niatnya becanda, tapi sayang, candaannya tidak
tepat untukku.
Ada yang punya
pengalaman serupa? Boleh share ;)
Semoga kita
dilindungi dengan perkataan yang tidak baik. SEMANGAT!
Nufa Zee
/
Thursday, December 26, 2013
/
0 Comments
-->
FLPers with Mbak Sinta (dok. pribadi)
Hafizh Ibrahim dalam
syair-nya, seorang ibu adalah sekolah, apabila engkau persiapkan dengan baik
berarti engkau telah mempersiapkan sebuah generasi yang harum. Lalu ketika
seorang Napoleon Bonaparte ditanya, ‘Benteng manakah di Prancis yang paling
kuat?’. Napoleon menjawab, ‘Para Ibu yang baik’.
http://www.biography.com/people/napoleon-9420291
Itulah sekelumit
kalimat pembuka tentang Ibu bagi beberapa tokoh besar dunia. Nah, di Indonesia,
setiap tahunnya ada tanggal khusus yang ditetapkan sebagai Hari Ibu Nasional, terkait
dengan tanggal tersebut banyak lembaga atau institusi yang mengadakan acara,
entah itu berupa lomba masak, ritual membasuh kaki ibu atau juga Talkshow di
kampus-kampus.
Seperti halnya Universitas Muslim Nusantara
pada tanggal 22 Desember 2013 lalu sukses mengadakan Talkshow Hari Ibu dengan
mengundang Anwar Sadat (perwakilan Rektor UMN) dan Sinta Yudisia ( Seorang Ibu
Rumah Tangga, Penulis Nasional dan juga Calon Psikolog Handal serta Ketua Umum
FLP Pusat)
Acara berlangsung
lancar dan ramai, ramai peserta perempuan maksudnya hehe, meskipun pagi kota
Medan sempat diguyur hujan, namun tak menyurutkan langkah untuk hadir menjemput
ilmu #asseeekk
Langsung saja ke TKP,
:D yang paling ditunggu adalah saat Sinta Yudisia in action, berikut beberapa poin penjelasan seputar Hari Ibu ^_^
>>> Ternyata
sejarah dibalik penetapan Hari Ibu Nasional dilatarbelakangi dari istri Bung
Karno, Dewi Sartika yang hendak membangun sekolah istri. Dewi Sartika merasa,
untuk jadi istri ternyata gak mudah, benar-benar learning by doing, nah dengan adanya sekolah istri, setiap istri
diharapkan bisa berdikari J
>>> info lain
lagi yang daku dapat adalah, aku baru tahu kalau telinga adalah indra yang
pertama kali diciptakan Allah sejak anak di dalam kandungan, itu sebab, kalimat
tauhid diperdengarkan.
>>> Di
sela-sela penyampaian, Mbak Sinta menuturkan cerita bahwa, ia punya teman yang
telah berkeluarga dan memiliki satu anak, keluarga tersebut menanamkan aqidah
anaknya sejak dini sekali, anak mereka laki-laki, dan memang sejak sebelum
melahirkan sang suami memang rajin ke masjid, saat anak mereka berusia dua
tahun, mereka sepakat untuk rutin membawa sang anak ke masjid meski awalnya
direspon dengan teriakan, jeritan, dan tangisan, tapi lambat laun malah anaknya
sendiri yang ketagihan untuk sholat berjama’ah di masjid :D Subhanallah
>>> lalu ada
penjelasan tentang poin bahwa ada saat seorang ibu menjadi decision maker dan contributor dalam keluarganya. Artinya, suami
tetap imam sang istri dalam hal agama dan beberapa hal lainnya, tapi istri bisa
menjadi decision maker bagi suami
yang butuh arahan tentang suatu permasalahan, dengan begitu suami tidak merasa
direndahkan marwahnya, tetap ada sopan santun, disinilah seni komunikasi antar
pasangan dipergunakan.
>>> Sebelum ke
point ibu adalah decision maker, ada
poin yang menjelaskan tentang Westernisasi
vs Modernisasi. Banyak peserta
yang ditanya arti modern itu apa, dan rata-rata jawabannya pragmatis sekali
T,,T apa mahasiswa sekarang sepragmatis itu ya? :O saat kemodernan seseorang
diukur dari merek dan tipe HP serta ada tidaknya orang memiliki HP di zaman
sekarang. ‘Jadi, Rasulullah bukanlah orang yang modern lah ya?’ celetuk Mbak
Sinta membuka pikiran peserta. Yang perlu dipahamkan adalah pengertian dari
modern itu, modernisasi adalah melakukan pekerjaan dengan efektif dan efisien. It’s simple, right? Kalau sekarang gak menerapkan makna dari modernisasi itu,
alamatlah kita akan tergerus waktu, karena hampir semua produk westernisasi itu memiliki misi agar kita
menyia-nyiakan waktu yang ada :O naudzubillahi
min dzalik
>>> Dan
terakhir adaah pernyataan yang cukup Jleb! :D
apa standar sukses orangtua dalam mendidik anak? Hayooo apa? Dan standar
suksesnya adalah saat anak komitmen untuk taat dan patuh pada Allah dan Rasul Nya,
standar yang amat sangat tinggi dan beban pertanggungjawabannya cukup berat
apalagi di zaman sekarang ini. Yuk, jadi ibu dan ayah yang tangguh ^_^
Kalau dari penyampaian
Bapak Anwar Sadat sendiri tak kalah berbobot dan ceria juga bersebab banyak joke segar yang mengalir dari lisan si
bapak untuk mencairkan suasana, inti dari sesi Bapak Anwar Sadat adalah, porsi ayah dan
ibu adalah sama, tak beda, ibarat mau belah kelapa dengan belah apel, parang
dan pisau, sama-sama berfungsi membelah, tapi mana yang lebih cocok? Kelapa
dibelah dengan parang, apel dibelah dengan pisau. Nah begitu pula kedudukan
ayah dan ibu dalam keluarga bagi anak-anaknya.
Wallahu’alam, Semoga
Bermanfaat. Selamat Hari Ibu! ^_^
Nufa Zee
/
Saturday, October 13, 2012
/
0 Comments
I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up Pertama kali dengar lagu ini di angkot 20
jurusan Kp. Lalang, angkotnya sering ngetem di simpang empat pintu 1 Unimed.
Kita flashback dulu ya, kenapa
tiba-tiba aku ada di angkot itu…
Hari
itu hari Senin, hari mengejar dosen langka yang hanya dua bulan sekali ada di
kampus selebihnya dia ngajar di Malaysia. Sesampainya di kampus, sms sang dosen
baru masuk dan dia mengabarkan bahwa aku harus menemuinya di kampus
Pascasarjana yang letaknya diujung langit :D, pukul 1.
Mendadak
lemas bin panik, aku butuh tandatangannya hari ini juga agar aku bisa urus
ijazah, mau tak mau aku harus kesana tapi gimana caranya sedangkan jam 2 aku
ngajar. Dilema.
Aku
terduduk di taman fakultas, selagi menunggu skripsiku ditandatangani sama Dekan
dan distempel. Aku ngobrol dengan adik kelas waktu di MAN dulu dan kami
sama-sama tamat kuliah :D, gak lama ngobrol datang temanku ngabarkan bahwa aku
belum dinyatakan lulus dalam seleksi program pembibitan dosen.
maksa banget ya kan? :D
Deg!
Huwaa..bercampur rasa, bingung, dilemma, ditambah lagi berita yg tadi.
Sebenarnya utk keputusan apapun, aku sudah mempersiapkan diri. Dari awal berdoa
begini, ‘Ya Allah jika memang ada rezeki dalam program pembibitan dosen ini,
lancarkan, mudahkan, namun bila tidak berilah pengganti yg lebih baik, dan
jangan buat aku terlalu kecewa ya Allah, aamiin’
Gak
terlalu kecewa memang, tapi mendadak berkelebat segala rencana-rencana yg ada
di kepala. Jika aku lulus maka akan begini rencana hidup yg kurancang, jika
belum lulus, aku akan banting setir dengan menjadi job hunter :D
Sedihnya
lagi, aku jadi teringat nenek, pertama kali dia dengar aku dapat tawaran
beasiswa ini, nenek senang gilak, dia sampai memelukku dan menangis.
*wuaahh..tisu? mana tisu?* Makanya yang pertama kali terbayang sejak dapat
kabar dari temanku itu adalah wajah nenek, dan
sampai sekarang belum aku sampaikan pada nenek bahwa aku gak lulus.
Setelah itu wajah orangtua, dan semua yang tersayang. Hiks…!
Selagi
minta pertolongan ke sahabat yang bisa ditebengin buat ke kampus Pasca,
Alhamdulillah ada dan kami janjian ketemu di kantornya.
Maka
untuk menuju ke kantornya, aku langsung jalan terburu, mencoba mengabaikan rasa
‘kecewa’, dan naik angkot 20 yg sedang ngetem.
Disinilah aku, …
Menunggu
penumpang, ramai dulu penumpang baru jalan. Syukurnya gak terlalu
bengong-bengong amat, supirnya pasang muter radio, jadi bisa denger music,
namun asli membuatku teringat apa yang dikabarkan temanku itu tadi ditambah
lagi alunan musik I won’t give up, ya
ampuunnn…aku meleleh T_T, ku tahan air mataku, soalnya selain aku ada dua
perempuan cewek di depanku, malu dong kalau aku nangis. :D
Huwaaa…sedih
banget, duh gara-gara lagu itu aku cengeng gila, sampai kucatat, lirik reff nya,
dan bertekad aku harus temukan lagu itu.
Setengah
jam berlalu, dalam perasaan kacau balau, lengkap sudah kegelisahanku, 15 menit
lalu aku sudah tanyakan ke supir kapan akan berangkat, katanya tunggu 3 orang
lagi. Ok fine!
10
menit penumpang udah berjumlah lima, tapi kok belum jalan juga, gak iya nih.
Aku turun, naik angkot 62 and then
sampai di aksara nyambung 65. Finally, 1
jam waktuku terbuang begitu saja, dan akhirnya sampai juga di kantor sahabatku
itu.
Hari
Senin, kulalui dengan rasa campur baur. Dan jadi teringat dengan apa yang
ditulis Ippho ‘Right’ Sentosa dalam bukunya 10 Jurus terlarang.
gramediaonline.com
…Kalaulah kita mengucurkan air mata karena
kehilangan, kegagalan, atau kebuntuan, maka itu adalah sinyal kelemahan.
Kelemahan karena tangisan itu menunjukkan betapa posesifnya kita, betapa egonya
kita, betapa tidak rasionalnya kita…Tangisan jenis ini yang merupakan tanda
kerapuhan diri…Menangislah bila harus menangis kata Dewa 19. Sekali lagi, bukan
sembarang meneteskan air mata! Sejenak dan sesekali, menangislah demi impian-impian,
nilai-nilai, orang terkasih, dan penyesalan-penyesalan. Percayalah kita tidak
akan pernah menjadi lemah karenanya, justru kita akan peroleh pencerahan,
kelegaan dan kekuatan!
Dikuatkan
lagi dengan pesan singkat seorang sahabat, dia bilang begini ‘Sudah gak apa,
Allah pasti sudah mempersiapkan rencana yang lebih baik, lebih indah, dari ini,
tenang aja’, :)
Hari Rabunya, aku ke Gramedia, setelah dari
acara diskusi dengan Esmeralda, dan pas bergerilya di bagian stationary, eh lagu ini diputar lagi, ah
gak iya nih, lagunya begitu sesuatu. Saatnya menuju download lagu gratis :D.
Sampai disini…aku belum tau siapa penyanyi lagu I won’t give up :D
-to be continued… Ada apa dengan ‘I Won’t Give Up?
Esmeralda, Esmeralda, kamu itu…
*gaya Anang pas jadi juri Indonesian Idol, hahaha*
Begini, siapa sih Esmeralda? Kok
kayaknya aku gak pernah dengar namanya, jarang ada nama Esmeralda yang penulis,
tapi malah sering dengar nama Esmeralda yang pada artis semua, artis telenovela
dengan nama yang rasa Spanyol gitu, kayak Marimar, Markonah *eh yg ini bukan
ya? :D, Markonah sih penemu payet kalau kata Mbak Asri Welas*
Gak ada ekspektasi apa-apa bertemu
Esmeralda(10/10), niatku murni karena dari siapapun ilmu yang positif pasti
bermanfaat, mau dia seorang Amerika , ataupun yg ngadain dubes AS yg oknum
rakyatnya buat film yg menghinakan Islam, tapi tetap memposisikan rasa benci
itu pada tempatnya. Sekali lagi hikmah itu bisa dari siapa saja, merugilah ia
yang mengabaikan hikmah itu :D *bijaknyaaaaa, pake bedak dulu ah*
Ok, sebelum diskusi dimulai peserta
diminta untuk menuju ruang mini teater di ruang tengah rumah Mr. Trevor dan
kami disuruh nonton. Film yang ditonton adalah film perjalanan Esmeralda ketika
masih di Puerto Rico, jadi kalau capek baca memoarnya yang berjudul ‘When I was
Puerto Rican’, nonton film dokumenternya bisa jadi alternatif.
poto bareng Esmeralda biar nular ketenaran dan ilmu nulisnya :D
Sekilas
tentang Esmeralda dan Buku Memoarnya
Esmeralda diundang Konsulat AS
perwakilan Medan dan kerennya
lagi ternyata Esmeralda adalah salahsatu pembicara dalam ajang bergengsi tempat
berkumpulnya para penulis internasional yang diadakan tiap tahun, Ubud
International Writer and Readers Festival 2012. Nah, kedatangan Esmeralda
seolah pengobat hatiku yang belum berkesempatan menghadiri ajang keren gilak
itu :D. Ini kerugian pertama kamu-kamu yg kemaren gak datang ^_*.
Nah, tadi ceritanya kan kita
belum kenal-kenal banget dengan Esmeralda, sekarang daku mau cerita hasil
diskusi pertemuan kami di rumah Deputi Konsulat AS perwakilan Medan, Mr. Trevor
Olson. Check this out.
Sebelum diskusi dimulai, ada
sesi nonton film dokumenter tentang kehidupan Esmeralda kecil saat masih di
Puerto Rico, setelah itu cerita pun mengalir…kisah Esmeralda berikut daku dapat
tambahannya dari beberapa situs.
whatredread.blogspot.com
Negi adalah nama kecil
Esmeralda Santiago, dia punya latarbelakang masa kanak-kanak yang berat dan
susah. Negi dan keluarga besarnya tinggal di rumah mungil di Macún, Puerto
Rico. Keluarganya sempat berpindah-pindah tempat tinggal karena ayahnya belum
punya pekerjaan tetap dan orangtuanya kerap cekcok. Mereka pindah ke Sancture, sebuah daerah pinggiran di
San Juan. Selama waktu itu juga, ibunya melahirkan beberapa kali. Negi, adalah
anak paling besar, dan sering orangtuanya membebankan tanggung jawab lebih
kepadanya untuk menjaga adik-adiknya.
Suatu hari saat ia berkunjung
ke kampung halamannya Macún, Puerto Rico, ternyata badai dahsyat menyapu seluruh Macún
dan merusak fasilitas listrik, rumah Negi juga hancur. Karena badai itu, ibu
Negi, yang dipanggil Mami, terpaksa harus kerja lebih keras untuk memenuhi
kebutuhan hidup. Maminya kerja, Negi kebagian jatah menjaga adik, namun karena
salahsatu adiknya tidak mendengar nasihat Negi, Raymond terluka di kaki saat
bermain sepeda. Mami berhenti kerja demi merawat Raymond.
Tak kunjung
sembuh, Mami membawa Raymond ke ahli mengobati kaki di New York. Setelah lama
di New York, Mami memutuskan untuk tinggal di New York, hanya Negi, Raymond dan
Edna yg ikut Mami. Anak Mami yang lain tetap di Puerto Rico karena belum cukup
uang untuk pindah ke New York.
Negi begitu
mencinta rumah pertama dimana mereka dulu tinggal. Ia begitu membenci keputusan
untuk pindah, Negi dilanda culture shock,
di tempat yang baru Negi harus mati-matian belajar berbahasa Inggris, dan
hal lain yang mesti ia sesuaikan.
Dan pemirsa,
sepertinya memang kisah Esmeralda benar-benar berat ya, hmm..ternyata ayah dan
ibunya belum resmi menikah, percekcokan sering terjadi di rumah itu sebabnya
Mami sering pergi dan pindah dari satu tempat ke tempat lain. Di musim dingin
pertama kali mereka di New York, Mami jatuh cinta dengan Fransisco. Seiring waktu
berjalan, Frans ternyata menderita kanker, disaat yg sama Mami hamil lagi untuk
kesekian kalinya. Frans banyak habiskan waktu di Rumah Sakit dan akhirnya
meninggal.
Ya, itu
hanya sepenggal kisah yang ia tulis di buku memoarnya, untuk kisah lanjutnya
baca sendiri bukunya hehehe, sepertinya ada di Perpustakaan American Corner di
IAIN SU *penasaran aku.
Tentang
Dunia Kepenulisan
Hoh, kenapa ya
rata-rata kehidupan penulis itu warna warni? :D
Anyway, Esmeralda banyak berbagi tentang dunia kepenulisan apalagi
pas sesi tanya jawab, wuihhh keluar semua tu ilmu Ms. Esmeralda.
Esmeralda baru
benar-benar menekuni dunia menulis saat ia berumur 36 tahun, nah loh buat kamu
para kawula muda yang punya keinginan jadi penulis masih ada kesempatan besar,
jadi anytime kalau kita serius dengan
keinginan kita, pasti jadi.
Awalnya niat Esmeralda jadi
penulis ditentang ortunya habis-habisan, buat apa jadi penulis? Penulis itu
bukan pekerjaan, mau makan apa kamu? A writer
is not a job. Dasar, Esmeralda keras kepala ia tetap saja yakin dengan
cita-citanya. Karena bila saya tidak memutuskan hal tersebut sejak lama, maka
jiwa saya mati. Jadilah dirimu 100%, begitu kata Esmeralda.
Ada peserta
yang bertanya,Kenapa tertarik untuk menulis?
Esmeralda, speechless sesaat, lalu ia lanjut
ngomong, jadi awalnya itu saat di Puerto Rico, ayahnya adalah seorang buruh
yang juga penyair, sehingga ayahnya pernah memberikan tumpukan kertas usang
yang ternyata adalah kumpulan puisi ayahnya.
Dan Esmeralda
juga tipe orang yang gila baca, sewaktu kecil ia bisa membaca apa saja, mulai
dari tulisan di kaleng makanan, kertas, dan sebagainya. Itu pula yang
membawanya untuk suka menulis.
Yang paling
kena kali waktu ia kirim essay pertamanya ke media lokal di New York tentang
masa kecilnya di Puerto Rico, di usia 36 tahun, tahun 1977. Berangkat dari
tulisan yang ternyata dibaca oleh seorang editor, Esmeralda pun ditawarkan
untuk membuat sebuah buku, dan jadilah lahir When I was Puerto Rican, dan
Esmeralda jadi penulis sampai sekarang walau latarbelakang pendidikannya di drama
dan seni tari.
Lalu ada juga
pertanyaan dari peserta begini, apakah duniamu memang hanya membaca dan menulis?
Esmeralda menjawab ya itulah dunia saya, namun tetap demi mendukung passion saya di dunia menulis dan seni
tari, saya tetap juga bekerja, pernah sampai jual sepatu, menari dan dibayar,
menyebarkan brosur, semua saya lakukan, namun sekarang tidak lagi, cukup selama
10 tahun saya bersekolah dan bekerja, dan kini saya dan suami berbisnis di
rumah mendirikan CANTOMEDIA sebuah perusahaan pembuat film dan media.
dok. pribadi
Tentang buku
memoarnya, ada juga peserta yang bertanya apakah buku tersebut berdampak
terhadap Puerto Rico sendiri? Dengan antusias Esmeralda menjawab, tentu ada
dampaknya, buku tersebut dijadikan buku teks di sekolah karena memuat sejarah Puerto
Rico masa lampau, selain itu saya dan keluarga jadi terkenal *dia tertawa, kami
juga tertawa hahaha #abaikan saja bagian ini jika tak penting :D*, dan buku ini
sudah dialihbahasakan ke 15 bahasa tapi belum ada yang berbahasa Indonesia,
*heh? Kok bisa? Gimana kalau aja saja yang translate? Hehehe*. Berkat buku ini
juga saya diundang sebagai pembicara di beberapa universitas di Amerika
Serikat, kecuali di Puerto Rico, sampai sekarang saya tidak mengerti, kenapa
rakyat Puerto Rico seperti itu ke saya, mereka tidak menganggap saya rakyat
Puerto Rico padahal saya sudah sekuat tenaga mempertahankan ke Puerto Rico-an saya
di tempat saya tinggal sekarang, New York.
Dari diskusi
bersama Esmeralda, Esmeralda begitu menekankan ke kawula muda kayak kita ini,
bahwa encourage young people to write
your culture, dukung pemuda untuk menulis tentang budayanya. Esmeralda bisa
dibilang adalah korban kesemena-menaan budaya, banyak orang yang menganggap
budaya Amerika lah yang keren sehingga anak muda banyak melupakan kebudayaan
aslinya sendiri, tapi tidak dengan Esmeralda, nah inilah misi si Esmeralda,
ayoo tulis tentang budaya kamu, lokalitas men,
lokalitas :)
Dalam menulis
novel, Esmeralda membagikan tips berupa, bahwa outline itu penting, saya bisa seminggu hanya untuk buat outline saja, nah jika outline sudah kuat maka jalan cerita
juga akan mudah, walau dipertengahan akan mengalami kesulitan tertentu, apalagi
jika sudah tiba di halaman terakhir, the
hardest thing when you write a novel is in the last page. Happy Writing
semua! ^_^
Kebayangkan
ruginya gak datang buat kamu yg awalnya bisa datang, hehehe, tapi itulah
oleh-olehnya, semoga bermanfaat dan membuat kamu makin semangat nulis yah
apalagi harus semangat baca dan mesti jadi predator buku tuh :D.