-->
Menu

your blog banner

Showing posts with label My Daily Story. Show all posts
Showing posts with label My Daily Story. Show all posts

Ada Canda yang Tak Tepat Untukku

/ / 2 Comments
Ada Canda yang Tak Tepat Untukku
-->
http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Big_smile.png

Beberapa hari lalu daku bersilaturahim ke tempat kerja yang lama ^_^, sesampainya disana teman-teman pada asik makan gorengan, sedangkan daku harus segera menyelesaikan masalah yang terkait dunia akhirat hehe, jadi disela-sela penyelesaian masalah, seorang teman yang berada di ruangan tersebut nyeletuk,

‘Zee, makan gorengan yuk, tapi gak usahlah ya’

Awalnya, senang banget ditawari gorengan, soalnya belum makan siang, hehe :D tapi mendengar kata ‘tapi, gak usahlah ya’ itu mendadak kenyang perutku hehe

‘Oh ya silahkan, dilanjutkan, daku masih harus nyelesain ini dengan Ra’

Sama dengan kalimat begini, udah gak lama jumpa ini ceritanya, jadi pas 'say hello'

'Lah Zee, ngapain kesini, ini kan rumah kami' #oppp

Hehe, cukup tahu sudah ^_^, bila begitu, mungkin dengan tidak mengiinjakkan kaki kesana lagi menjadi solusi yang baik buat kita semua 


----
Well, semoga pembaca bisa ambil hikmahnya ya, :D aku pun belajar dari peristiwa tersebut, lidah ini kalau tidak dijaga, kemudian tidak dipikirkan apa yang hendak disampaikan, maka akan merusak komunikasi.

Dalam becanda, begitu juga, hmm… Mungkin temanku itu niatnya becanda, tapi sayang, candaannya tidak tepat untukku. 

Ada yang punya pengalaman serupa? Boleh share ;)

Semoga kita dilindungi dengan perkataan yang tidak baik. SEMANGAT!
#Lanjutkan Hidup ;)
Salam Ukhuwah ;)

Rangkuman Talkshow Hari Ibu Bersama Sinta Yudisia

/ / 0 Comments
Rangkuman Talkshow Hari Ibu Bersama Sinta Yudisia
--> 
FLPers with Mbak Sinta (dok. pribadi)
Hafizh Ibrahim dalam syair-nya, seorang ibu adalah sekolah, apabila engkau persiapkan dengan baik berarti engkau telah mempersiapkan sebuah generasi yang harum. Lalu ketika seorang Napoleon Bonaparte ditanya, ‘Benteng manakah di Prancis yang paling kuat?’. Napoleon menjawab, ‘Para Ibu yang baik’.
http://www.biography.com/people/napoleon-9420291
Itulah sekelumit kalimat pembuka tentang Ibu bagi beberapa tokoh besar dunia. Nah, di Indonesia, setiap tahunnya ada tanggal khusus yang ditetapkan sebagai Hari Ibu Nasional, terkait dengan tanggal tersebut banyak lembaga atau institusi yang mengadakan acara, entah itu berupa lomba masak, ritual membasuh kaki ibu atau juga Talkshow di kampus-kampus.
 Seperti halnya Universitas Muslim Nusantara pada tanggal 22 Desember 2013 lalu sukses mengadakan Talkshow Hari Ibu dengan mengundang Anwar Sadat (perwakilan Rektor UMN) dan Sinta Yudisia ( Seorang Ibu Rumah Tangga, Penulis Nasional dan juga Calon Psikolog Handal serta Ketua Umum FLP Pusat)
Acara berlangsung lancar dan ramai, ramai peserta perempuan maksudnya hehe, meskipun pagi kota Medan sempat diguyur hujan, namun tak menyurutkan langkah untuk hadir menjemput ilmu #asseeekk
Langsung saja ke TKP, :D yang paling ditunggu adalah saat Sinta Yudisia in action, berikut beberapa poin penjelasan seputar Hari Ibu ^_^
>>> Ternyata sejarah dibalik penetapan Hari Ibu Nasional dilatarbelakangi dari istri Bung Karno, Dewi Sartika yang hendak membangun sekolah istri. Dewi Sartika merasa, untuk jadi istri ternyata gak mudah, benar-benar learning by doing, nah dengan adanya sekolah istri, setiap istri diharapkan bisa berdikari J
>>> info lain lagi yang daku dapat adalah, aku baru tahu kalau telinga adalah indra yang pertama kali diciptakan Allah sejak anak di dalam kandungan, itu sebab, kalimat tauhid diperdengarkan.
>>> Di sela-sela penyampaian, Mbak Sinta menuturkan cerita bahwa, ia punya teman yang telah berkeluarga dan memiliki satu anak, keluarga tersebut menanamkan aqidah anaknya sejak dini sekali, anak mereka laki-laki, dan memang sejak sebelum melahirkan sang suami memang rajin ke masjid, saat anak mereka berusia dua tahun, mereka sepakat untuk rutin membawa sang anak ke masjid meski awalnya direspon dengan teriakan, jeritan, dan tangisan, tapi lambat laun malah anaknya sendiri yang ketagihan untuk sholat berjama’ah di masjid :D Subhanallah
>>> lalu ada penjelasan tentang poin bahwa ada saat seorang ibu menjadi decision maker dan contributor dalam keluarganya. Artinya, suami tetap imam sang istri dalam hal agama dan beberapa hal lainnya, tapi istri bisa menjadi decision maker bagi suami yang butuh arahan tentang suatu permasalahan, dengan begitu suami tidak merasa direndahkan marwahnya, tetap ada sopan santun, disinilah seni komunikasi antar pasangan dipergunakan.
>>> Sebelum ke point ibu adalah decision maker, ada poin yang menjelaskan tentang Westernisasi vs Modernisasi. Banyak peserta yang ditanya arti modern itu apa, dan rata-rata jawabannya pragmatis sekali T,,T apa mahasiswa sekarang sepragmatis itu ya? :O saat kemodernan seseorang diukur dari merek dan tipe HP serta ada tidaknya orang memiliki HP di zaman sekarang. ‘Jadi, Rasulullah bukanlah orang yang modern lah ya?’ celetuk Mbak Sinta membuka pikiran peserta. Yang perlu dipahamkan adalah pengertian dari modern itu, modernisasi adalah melakukan pekerjaan dengan efektif dan efisien. It’s simple, right? Kalau sekarang gak menerapkan makna dari modernisasi itu, alamatlah kita akan tergerus waktu, karena hampir semua produk westernisasi itu memiliki misi agar kita menyia-nyiakan waktu yang ada :O naudzubillahi min dzalik
>>> Dan terakhir adaah pernyataan yang cukup Jleb! :D  apa standar sukses orangtua dalam mendidik anak? Hayooo apa? Dan standar suksesnya adalah saat anak komitmen untuk taat dan patuh pada Allah dan Rasul Nya, standar yang amat sangat tinggi dan beban pertanggungjawabannya cukup berat apalagi di zaman sekarang ini. Yuk, jadi ibu dan ayah yang tangguh ^_^
Kalau dari penyampaian Bapak Anwar Sadat sendiri tak kalah berbobot dan ceria juga bersebab banyak joke segar yang mengalir dari lisan si bapak untuk mencairkan suasana, inti dari  sesi Bapak Anwar Sadat adalah, porsi ayah dan ibu adalah sama, tak beda, ibarat mau belah kelapa dengan belah apel, parang dan pisau, sama-sama berfungsi membelah, tapi mana yang lebih cocok? Kelapa dibelah dengan parang, apel dibelah dengan pisau. Nah begitu pula kedudukan ayah dan ibu dalam keluarga bagi anak-anaknya.
Wallahu’alam, Semoga Bermanfaat. Selamat Hari Ibu! ^_^
http://blog.littlepicklepress.com/2012/05/happy-mothers-day.html


Jason Mraz Makes Me Cry

/ / 0 Comments
Jason Mraz Makes Me Cry
I won't give up on us
Even if the skies get rough
I'm giving you all my love
I'm still looking up

Pertama kali dengar lagu ini di angkot 20 jurusan Kp. Lalang, angkotnya sering ngetem di simpang empat pintu 1 Unimed. Kita flashback dulu ya, kenapa tiba-tiba aku ada di angkot itu…

Hari itu hari Senin, hari mengejar dosen langka yang hanya dua bulan sekali ada di kampus selebihnya dia ngajar di Malaysia. Sesampainya di kampus, sms sang dosen baru masuk dan dia mengabarkan bahwa aku harus menemuinya di kampus Pascasarjana yang letaknya diujung langit :D, pukul 1.

Mendadak lemas bin panik, aku butuh tandatangannya hari ini juga agar aku bisa urus ijazah, mau tak mau aku harus kesana tapi gimana caranya sedangkan jam 2 aku ngajar. Dilema.

Aku terduduk di taman fakultas, selagi menunggu skripsiku ditandatangani sama Dekan dan distempel. Aku ngobrol dengan adik kelas waktu di MAN dulu dan kami sama-sama tamat kuliah :D, gak lama ngobrol datang temanku ngabarkan bahwa aku belum dinyatakan lulus dalam seleksi program pembibitan dosen. 

maksa banget ya kan? :D

Deg!

Huwaa..bercampur rasa, bingung, dilemma, ditambah lagi berita yg tadi. Sebenarnya utk keputusan apapun, aku sudah mempersiapkan diri. Dari awal berdoa begini, ‘Ya Allah jika memang ada rezeki dalam program pembibitan dosen ini, lancarkan, mudahkan, namun bila tidak berilah pengganti yg lebih baik, dan jangan buat aku terlalu kecewa ya Allah, aamiin’

Gak terlalu kecewa memang, tapi mendadak berkelebat segala rencana-rencana yg ada di kepala. Jika aku lulus maka akan begini rencana hidup yg kurancang, jika belum lulus, aku akan banting setir dengan menjadi job hunter :D

Sedihnya lagi, aku jadi teringat nenek, pertama kali dia dengar aku dapat tawaran beasiswa ini, nenek senang gilak, dia sampai memelukku dan menangis. *wuaahh..tisu? mana tisu?* Makanya yang pertama kali terbayang sejak dapat kabar dari temanku itu adalah wajah nenek, dan  sampai sekarang belum aku sampaikan pada nenek bahwa aku gak lulus. Setelah itu wajah orangtua, dan semua yang tersayang. Hiks…!

Selagi minta pertolongan ke sahabat yang bisa ditebengin buat ke kampus Pasca, Alhamdulillah ada dan kami janjian ketemu di kantornya.
Maka untuk menuju ke kantornya, aku langsung jalan terburu, mencoba mengabaikan rasa ‘kecewa’, dan naik angkot 20 yg sedang ngetem.

Disinilah aku, …

Menunggu penumpang, ramai dulu penumpang baru jalan. Syukurnya gak terlalu bengong-bengong amat, supirnya pasang muter radio, jadi bisa denger music, namun asli membuatku teringat apa yang dikabarkan temanku itu tadi ditambah lagi alunan musik I won’t give up, ya ampuunnn…aku meleleh T_T, ku tahan air mataku, soalnya selain aku ada dua perempuan cewek di depanku, malu dong kalau aku nangis. :D

Huwaaa…sedih banget, duh gara-gara lagu itu aku cengeng gila, sampai kucatat, lirik reff nya, dan bertekad aku harus temukan lagu itu.

Setengah jam berlalu, dalam perasaan kacau balau, lengkap sudah kegelisahanku, 15 menit lalu aku sudah tanyakan ke supir kapan akan berangkat, katanya tunggu 3 orang lagi. Ok fine!

10 menit penumpang udah berjumlah lima, tapi kok belum jalan juga, gak iya nih. Aku turun, naik angkot 62 and then sampai di aksara nyambung 65. Finally, 1 jam waktuku terbuang begitu saja, dan akhirnya sampai juga di kantor sahabatku itu.

Hari Senin, kulalui dengan rasa campur baur. Dan jadi teringat dengan apa yang ditulis Ippho ‘Right’ Sentosa dalam bukunya 10 Jurus terlarang.
gramediaonline.com
…Kalaulah kita mengucurkan air mata karena kehilangan, kegagalan, atau kebuntuan, maka itu adalah sinyal kelemahan. Kelemahan karena tangisan itu menunjukkan betapa posesifnya kita, betapa egonya kita, betapa tidak rasionalnya kita…Tangisan jenis ini yang merupakan tanda kerapuhan diri…Menangislah bila harus menangis kata Dewa 19. Sekali lagi, bukan sembarang meneteskan air mata! Sejenak dan sesekali, menangislah demi impian-impian, nilai-nilai, orang terkasih, dan penyesalan-penyesalan. Percayalah kita tidak akan pernah menjadi lemah karenanya, justru kita akan peroleh pencerahan, kelegaan dan kekuatan!

Dikuatkan lagi dengan pesan singkat seorang sahabat, dia bilang begini ‘Sudah gak apa, Allah pasti sudah mempersiapkan rencana yang lebih baik, lebih indah, dari ini, tenang aja’, :)

Hari Rabunya, aku ke Gramedia, setelah dari acara diskusi dengan Esmeralda, dan pas bergerilya di bagian stationary, eh lagu ini diputar lagi, ah gak iya nih, lagunya begitu sesuatu. Saatnya menuju download lagu gratis :D.

Sampai disini…aku belum tau siapa penyanyi lagu I won’t give up :D

-to be continued… Ada apa dengan ‘I Won’t Give Up?


















From Puerto Rico to Medan with Esmeralda Santiago

/ / 0 Comments
From Puerto Rico to Medan with Esmeralda Santiago

            Esmeralda, Esmeralda, kamu itu… *gaya Anang pas jadi juri Indonesian Idol, hahaha*
            Begini, siapa sih Esmeralda? Kok kayaknya aku gak pernah dengar namanya, jarang ada nama Esmeralda yang penulis, tapi malah sering dengar nama Esmeralda yang pada artis semua, artis telenovela dengan nama yang rasa Spanyol gitu, kayak Marimar, Markonah *eh yg ini bukan ya? :D, Markonah sih penemu payet kalau kata Mbak Asri Welas*
            Gak ada ekspektasi apa-apa bertemu Esmeralda(10/10), niatku murni karena dari siapapun ilmu yang positif pasti bermanfaat, mau dia seorang Amerika , ataupun yg ngadain dubes AS yg oknum rakyatnya buat film yg menghinakan Islam, tapi tetap memposisikan rasa benci itu pada tempatnya. Sekali lagi hikmah itu bisa dari siapa saja, merugilah ia yang mengabaikan hikmah itu :D *bijaknyaaaaa, pake bedak dulu ah*
            Ok, sebelum diskusi dimulai peserta diminta untuk menuju ruang mini teater di ruang tengah rumah Mr. Trevor dan kami disuruh nonton. Film yang ditonton adalah film perjalanan Esmeralda ketika masih di Puerto Rico, jadi kalau capek baca memoarnya yang berjudul ‘When I was Puerto Rican’, nonton film dokumenternya bisa jadi alternatif.

poto bareng Esmeralda biar nular ketenaran dan ilmu nulisnya :D
Sekilas tentang Esmeralda dan Buku Memoarnya
Esmeralda diundang Konsulat AS perwakilan Medan dan kerennya lagi ternyata Esmeralda adalah salahsatu pembicara dalam ajang bergengsi tempat berkumpulnya para penulis internasional yang diadakan tiap tahun, Ubud International Writer and Readers Festival 2012. Nah, kedatangan Esmeralda seolah pengobat hatiku yang belum berkesempatan menghadiri ajang keren gilak itu :D. Ini kerugian pertama kamu-kamu yg kemaren gak datang ^_*.
Nah, tadi ceritanya kan kita belum kenal-kenal banget dengan Esmeralda, sekarang daku mau cerita hasil diskusi pertemuan kami di rumah Deputi Konsulat AS perwakilan Medan, Mr. Trevor Olson. Check this out.
Sebelum diskusi dimulai, ada sesi nonton film dokumenter tentang kehidupan Esmeralda kecil saat masih di Puerto Rico, setelah itu cerita pun mengalir…kisah Esmeralda berikut daku dapat tambahannya dari beberapa situs.

whatredread.blogspot.com
Negi adalah nama kecil Esmeralda Santiago, dia punya latarbelakang masa kanak-kanak yang berat dan susah. Negi dan keluarga besarnya tinggal di rumah mungil di Macún, Puerto Rico. Keluarganya sempat berpindah-pindah tempat tinggal karena ayahnya belum punya pekerjaan tetap dan orangtuanya kerap cekcok. Mereka  pindah ke Sancture, sebuah daerah pinggiran di San Juan. Selama waktu itu juga, ibunya melahirkan beberapa kali. Negi, adalah anak paling besar, dan sering orangtuanya membebankan tanggung jawab lebih kepadanya untuk menjaga adik-adiknya.
Suatu hari saat ia berkunjung ke kampung halamannya Macún, Puerto Rico, ternyata badai dahsyat menyapu seluruh Macún dan merusak fasilitas listrik, rumah Negi juga hancur. Karena badai itu, ibu Negi, yang dipanggil Mami, terpaksa harus kerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan hidup. Maminya kerja, Negi kebagian jatah menjaga adik, namun karena salahsatu adiknya tidak mendengar nasihat Negi, Raymond terluka di kaki saat bermain sepeda. Mami berhenti kerja demi merawat Raymond.
            Tak kunjung sembuh, Mami membawa Raymond ke ahli mengobati kaki di New York. Setelah lama di New York, Mami memutuskan untuk tinggal di New York, hanya Negi, Raymond dan Edna yg ikut Mami. Anak Mami yang lain tetap di Puerto Rico karena belum cukup uang untuk pindah ke New York.
            Negi begitu mencinta rumah pertama dimana mereka dulu tinggal. Ia begitu membenci keputusan untuk pindah, Negi dilanda culture shock, di tempat yang baru Negi harus mati-matian belajar berbahasa Inggris, dan hal lain yang mesti ia sesuaikan.
            Dan pemirsa, sepertinya memang kisah Esmeralda benar-benar berat ya, hmm..ternyata ayah dan ibunya belum resmi menikah, percekcokan sering terjadi di rumah itu sebabnya Mami sering pergi dan pindah dari satu tempat ke tempat lain. Di musim dingin pertama kali mereka di New York, Mami jatuh cinta dengan Fransisco. Seiring waktu berjalan, Frans ternyata menderita kanker, disaat yg sama Mami hamil lagi untuk kesekian kalinya. Frans banyak habiskan waktu di Rumah Sakit dan akhirnya meninggal.
            Ya, itu hanya sepenggal kisah yang ia tulis di buku memoarnya, untuk kisah lanjutnya baca sendiri bukunya hehehe, sepertinya ada di Perpustakaan American Corner di IAIN SU *penasaran aku.

Tentang Dunia Kepenulisan
Hoh, kenapa ya rata-rata kehidupan penulis itu warna warni? :D
Anyway, Esmeralda banyak berbagi tentang dunia kepenulisan apalagi pas sesi tanya jawab, wuihhh keluar semua tu ilmu Ms. Esmeralda.
Esmeralda baru benar-benar menekuni dunia menulis saat ia berumur 36 tahun, nah loh buat kamu para kawula muda yang punya keinginan jadi penulis masih ada kesempatan besar, jadi anytime kalau kita serius dengan keinginan kita, pasti jadi.
            Awalnya niat Esmeralda jadi penulis ditentang ortunya habis-habisan, buat apa jadi penulis? Penulis itu bukan pekerjaan, mau makan apa kamu? A writer is not a job. Dasar, Esmeralda keras kepala ia tetap saja yakin dengan cita-citanya. Karena bila saya tidak memutuskan hal tersebut sejak lama, maka jiwa saya mati. Jadilah dirimu 100%, begitu kata Esmeralda.
Ada peserta yang bertanya,Kenapa tertarik untuk menulis?
Esmeralda, speechless sesaat, lalu ia lanjut ngomong, jadi awalnya itu saat di Puerto Rico, ayahnya adalah seorang buruh yang juga penyair, sehingga ayahnya pernah memberikan tumpukan kertas usang yang ternyata adalah kumpulan puisi ayahnya.
Dan Esmeralda juga tipe orang yang gila baca, sewaktu kecil ia bisa membaca apa saja, mulai dari tulisan di kaleng makanan, kertas, dan sebagainya. Itu pula yang membawanya untuk suka menulis.
Yang paling kena kali waktu ia kirim essay pertamanya ke media lokal di New York tentang masa kecilnya di Puerto Rico, di usia 36 tahun, tahun 1977. Berangkat dari tulisan yang ternyata dibaca oleh seorang editor, Esmeralda pun ditawarkan untuk membuat sebuah buku, dan jadilah lahir When I was Puerto Rican, dan Esmeralda jadi penulis sampai sekarang walau latarbelakang pendidikannya di drama dan seni tari.
Lalu ada juga pertanyaan dari peserta begini, apakah duniamu memang hanya membaca dan menulis? Esmeralda menjawab ya itulah dunia saya, namun tetap demi mendukung passion saya di dunia menulis dan seni tari, saya tetap juga bekerja, pernah sampai jual sepatu, menari dan dibayar, menyebarkan brosur, semua saya lakukan, namun sekarang tidak lagi, cukup selama 10 tahun saya bersekolah dan bekerja, dan kini saya dan suami berbisnis di rumah mendirikan CANTOMEDIA sebuah perusahaan pembuat film dan media.
dok. pribadi
Tentang buku memoarnya, ada juga peserta yang bertanya apakah buku tersebut berdampak terhadap Puerto Rico sendiri? Dengan antusias Esmeralda menjawab, tentu ada dampaknya, buku tersebut dijadikan buku teks di sekolah karena memuat sejarah Puerto Rico masa lampau, selain itu saya dan keluarga jadi terkenal *dia tertawa, kami juga tertawa hahaha #abaikan saja bagian ini jika tak penting :D*, dan buku ini sudah dialihbahasakan ke 15 bahasa tapi belum ada yang berbahasa Indonesia, *heh? Kok bisa? Gimana kalau aja saja yang translate? Hehehe*. Berkat buku ini juga saya diundang sebagai pembicara di beberapa universitas di Amerika Serikat, kecuali di Puerto Rico, sampai sekarang saya tidak mengerti, kenapa rakyat Puerto Rico seperti itu ke saya, mereka tidak menganggap saya rakyat Puerto Rico padahal saya sudah sekuat tenaga mempertahankan ke Puerto Rico-an saya di tempat saya tinggal sekarang, New York. 
Dari diskusi bersama Esmeralda, Esmeralda begitu menekankan ke kawula muda kayak kita ini, bahwa encourage young people to write your culture, dukung pemuda untuk menulis tentang budayanya. Esmeralda bisa dibilang adalah korban kesemena-menaan budaya, banyak orang yang menganggap budaya Amerika lah yang keren sehingga anak muda banyak melupakan kebudayaan aslinya sendiri, tapi tidak dengan Esmeralda, nah inilah misi si Esmeralda, ayoo tulis tentang budaya kamu, lokalitas men, lokalitas :)
Dalam menulis novel, Esmeralda membagikan tips berupa, bahwa outline itu penting, saya bisa seminggu hanya untuk buat outline saja, nah jika outline sudah kuat maka jalan cerita juga akan mudah, walau dipertengahan akan mengalami kesulitan tertentu, apalagi jika sudah tiba di halaman terakhir, the hardest thing when you write a novel is in the last page. Happy Writing semua! ^_^
Kebayangkan ruginya gak datang buat kamu yg awalnya bisa datang, hehehe, tapi itulah oleh-olehnya, semoga bermanfaat dan membuat kamu makin semangat nulis yah apalagi harus semangat baca dan mesti jadi predator buku tuh :D.







 
Powered by Blogger.