-->
Menu

your blog banner

Showing posts with label Self Reminder. Show all posts
Showing posts with label Self Reminder. Show all posts

Ada Canda yang Tak Tepat Untukku

/ / 2 Comments
Ada Canda yang Tak Tepat Untukku
-->
http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Big_smile.png

Beberapa hari lalu daku bersilaturahim ke tempat kerja yang lama ^_^, sesampainya disana teman-teman pada asik makan gorengan, sedangkan daku harus segera menyelesaikan masalah yang terkait dunia akhirat hehe, jadi disela-sela penyelesaian masalah, seorang teman yang berada di ruangan tersebut nyeletuk,

‘Zee, makan gorengan yuk, tapi gak usahlah ya’

Awalnya, senang banget ditawari gorengan, soalnya belum makan siang, hehe :D tapi mendengar kata ‘tapi, gak usahlah ya’ itu mendadak kenyang perutku hehe

‘Oh ya silahkan, dilanjutkan, daku masih harus nyelesain ini dengan Ra’

Sama dengan kalimat begini, udah gak lama jumpa ini ceritanya, jadi pas 'say hello'

'Lah Zee, ngapain kesini, ini kan rumah kami' #oppp

Hehe, cukup tahu sudah ^_^, bila begitu, mungkin dengan tidak mengiinjakkan kaki kesana lagi menjadi solusi yang baik buat kita semua 


----
Well, semoga pembaca bisa ambil hikmahnya ya, :D aku pun belajar dari peristiwa tersebut, lidah ini kalau tidak dijaga, kemudian tidak dipikirkan apa yang hendak disampaikan, maka akan merusak komunikasi.

Dalam becanda, begitu juga, hmm… Mungkin temanku itu niatnya becanda, tapi sayang, candaannya tidak tepat untukku. 

Ada yang punya pengalaman serupa? Boleh share ;)

Semoga kita dilindungi dengan perkataan yang tidak baik. SEMANGAT!
#Lanjutkan Hidup ;)
Salam Ukhuwah ;)

Melewati 24 Tahun

/ / 0 Comments
Melewati 24 Tahun

          Mengutip sebaris kalimat bijak dari seseorang bahwa, tidak ada live happily everafter, yang adalah bagaimana kita melewati tahun demi tahun dengan rasa syukur.
          Ah, sudah 24 tahun saja jika dihitung menurut tahun Masehi. Hari kelima bulan Mei tahun 2012, tak banyak yang aku lakukan, rutinitas aja sebenarnya, sesekali tetap bertanya, tanggal berapa ini? Sabtu pagi itu aku mengajar di sekolah, dapat ucapan selamat umur berkurang, bingung juga harus menempatkan ekspresi jika sedang berada di hari lahir, harus kah bahagia memperingati hari dimana berkurangnya umur?
          Pulang ngajar, ke PQ ambil jadwal mengajar, lepas itu naik sudako buat pulang, ah hampa betul satu harian itu =D, sesekali mengintip notif fb, udah berapa orang yang mendoakan *terharu, banyak banget yang sayang sama uul, 130-an teman dan sahabat turut mendoakan, semoga diaminkan malaikat ^_^, aamiin*, sampai di rumah, bingung mau ngapain. Bener-bener hari yang ‘sesuatu’, mendung, waktu berjalan lambaaattt sekali, seolah kamera slow motion mengelilingiku seharian. Alhasil, dibawa tidur siang juga =D, efek kurang sehat mendukung, yah hitung-hitung bedrest lah.
          Hap, itulah rangkaianku melewati hari yang kata orang istimewa.
          Ulangtahun, kata ustadz Yusuf Mansur adalah budaya barat, apalagi diperingati dengan segala hiruk pikuknya, tiup lilin, party, dan lain-lain. Bagiku mengulang tahun adalah memperingati umur yang berkurang dengan ungkapan rasa syukur tak henti-henti pada Sang Maha Pencipta. Jika di flash back lagi, tahun ini adalah tahun yang terasa banget up and down nya seorang Zee. Aku bertahan, karena iman di dada yang membaja, jika tak ada iman, wallahu ‘alam, seolah akulah yang punya masalah maha banyak di dunia ini, padahal masih banyak yang lebih parah namun jauh lebih bijak dalam melewati hari-harinya, saudara kita di Palestina, tekanan apa yang tidak mereka rasakan?, semua, hampir tiap hari penuh tekanan, tapi mereka bertahan, mereka tetap melanjutkan hidup, kenapa ambil contoh Palestina?, karena negeri yang aman impian semua penduduknya, aman negerinya, tentu menjalani hidup jauh lebih tenang bagi orang yang berpikir.
          Mengulang tahun, selain terus menerus mengeja kata syukur, juga kesempatan setahun sekali muhasabah diri, walaupun idealnya tiap hari sebelum tidur, evaluasi diri, nah, momen ulang tahun, evaluasi diri selama satu tahun yang telah dilewati. Apakah termasuk orang yang beruntung atau merugi? *cukup aku, buku harian dan Allah saja yang tahu* =)
          Hal yang paling aku suka saat momen memperingati hari lahir, hujan doa yang mengguyur dari saudara yang mencinta dan dicinta, asli membuat terharu bin merembeskan air mata, *terima kasih ya semua, kepada yang mendoakan diriku diam-diam, terimakasih juga yaaaa…*,  belum lagi tulisan esei yang terbit di Mimbar Umum, adalah hadiah istimewa, hehehe
          Sekali lagi, selamat melewati angka 23 dan menjalani angka 24, semoga ke depan lebih baik, ya Zee =) Aamiin

#hidup bukan tentang lembaran lembaran usia yang berguguran, hidup adalah rangkaian sujud syukur dan dzikir dzikir syukur tiap hela nafas


         
         

MARAH, RAMAH, HARAM

/ / 0 Comments
MARAH, RAMAH, HARAM
sumber: google.com

Dear Zee…
Marah, Ramah, Haram,..udah dibalik2 pun hurufnya kata terakhirnya juga gak enak hahahaha. Ada kalimat bijak pernah terbit di dunia ini, kurang lebih bunyinya seperti ini, jangan pernah membuat/membiarkan org yang kamu sayangi pergi dalam keadaan marah.
Kalimat bijak itu ada benarnya, daku pernah marahan sama adikku paling kecil, dan aku membiarkannya pergi ke sekolah dalam keadaan marah. Hadeh, perasaanku bener-bener nggak enak @_@.
Belum lagi ditambah dengan nonton film yang memuat adegan seperti itu, ada dua tokoh bertengkar, lalu si tokoh yang dimarahi itu pergi trus sutradara membuat tokoh yang pergi itu kecelakaan. Heuheuheuheu.
Makanya, klo perasaanku gak enak sama orang, mau orang itu ngerasa ato tidak, aku Cuma bisa minta maaf dan minta senyumnya itu aja sudah cukup buat hatiku utuh halaahhh.
Curhat di sabtu pagi tralalalal ^_^
Jangan marah lagi ya say =)

Hakikat Cinta dan Pernikahan dalam Islam

/ / 0 Comments
Hakikat Cinta dan Pernikahan dalam Islam


Jumat, 27 Mei 2011 19:47 WIB
Oleh : Agustiar Nur Akbar

Cinta mengandung energi yang sangat besar, energi yang sangat luar biasa. Itulah kenapa seorang ibu rela berkorban sekalipun nyawanya demi sang anak. Seorang suami dapat tak hiraukan lelah dan peluh yang bercucuran demi anak istrinya. Para sahabat rela berkorban demi Allah dan Rasul-Nya, Muhammad SAW. Dan Romeo yang rela mati demi Juliet kekasihnya (sebenarnya ini adalah perbuatan bodoh atas nama cinta).

Energi cinta yang besar mempunyai kekuatan untuk mendorong seseorang melakukan sesuatu diluar akal sehatnya. Dan memberi kekuatan besar bagi seseorang untuk melakukan Sesuatu yang ia cintai.

Namun sayang, seringkali kekuatan energi cinta yang begitu besar menguap begitu saja tanpa ada sinergi dengan hal positif. Hal ini banyak terjadi dikalangan kawula muda kita, sahabat-sahabat kita, dan saudara-sadara kita. Atau mungkin justru kita sendiri. Cinta yang mereka usung selalu semu dan fana. Terbukti dengan kekecewaan, dan kesedihan yang diderita pada akhirnya secara sia-sia.

Sudah menjadi fitrah cinta yang timbul antara pria dan wanita yang bukan mahram. Seperti yang difirmankan Allah SWT dalam Al Quranul Karim. “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”. (Q.S Ar Rum [30] : 21).

Cinta walaupun mempunyai energi yang luar biasa namun ia juga rapuh. Islam mensyariatkan pernikahan untuk untuk melindunginya dari kemadharatan yang ada padanya. Dengan akad pernikahan, Islam menghalalkan segala macam bentuk ekspresi cinta dari pasangan suami istri. Bahkan setiap ekspresi dari cinta tersebut bernilai ibadah di sisi Allah SWT. Pengorbanan atas nama cinta tidak lagi menjadi sia-sia. Akan tetapi bernilai sangat istimewa.

Rasa letih, lelah sang kepala keluarga untuk anak istri menjadi ibadah. Kesabaran istri dalam taat kepada suami, melayaninya dan mengasuh serta mendidik anak-anaknya menjadi ibadah. Dari hal terkecil sampai dengan hal yang paling besar terhitung ibadah.

Kerapuhan cinta bisa membuat dua insan berpisah. Dalam syariat pernikahan Islam. Islam menjaga hak setiap pihak, sehingga tidak ada yang dirugikan. Ketika terjadi perpisahan atau perceraian hak dan kewajiban dari kedua belah pihak telah diatur dengan sempurna. Dari mulai yang terkait dengan diri sendiri secara langsung. Seperti mut-ah (pemberian kepada istri ketika dicerai), dan aturan untuk rujuk. Maupun yang terkait dengan pihak lain, seperti pembagian waris dan aturan menikah kembali dengan pasangan yang berbeda.

Tidak ada isitilah pihak yang dirugikan disini. Pihak yang lepas dari tanggung jawabnya seperti menelantarkan anak dan istrinya. Ia akan diperhitungkan baik di sisi manusia maupun di sisi Allah SWT. Keributan akibat harta gono-gini antara pasangan pun tidak akan terjadi. Karena telah diatur dalam pembagian waris dan penentuan kepemilikan harta.

Dengan demikian energi cinta yang besar tidak akan sia-sia serta tidak membahayakan. Rapuhnya pun tidak akan merugikan satu pihak, apalagi menderita sia-sia. Seperti pasangan yang ditinggal kekasihnya dan ia dalam keadaan mengandung, misalnya. Dari sini kita juga dapat mengatakan, penghargaan tertinggi untuk wanita atas nama cinta adalah pernikahan secara Islam. Wallahu a’lam bish-shawab.

Penulis adalah mahasiswa Indonesia yang kini tengah menimba ilmu di Kairo, Mesir.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/05/27/lluu6v-hakikat-cinta-dan-pernikahan-dalam-islam

Menikah itu Pasti Bahagia: Is It Just A Fairy Tale?

/ / 3 Comments
Menikah itu Pasti Bahagia: Is It Just A Fairy Tale?

Oleh: Zee Shabrina

Banyak teman-temanku yang takut menikah, lantaran mereka takut dengan pengalaman menikah orang-orang terdekat mereka yang jauh dari harmonis bahkan banyak yang bercerai. Menikah memang penuh riak, penuh liku, manis, asam bahkan pahit. Tapi itu bukan alasan untuk takut.


Kalimat diatas adalah status fesbuk yang ditulis temanku beberapa waktu yang lalu. Dan aku merasa kalimat ini pas sekali menggambarkan suasana hatiku saat ini. Dalam beberapa hari terakhir aku dipertemukan dengan kisah-kisah miris di dalam pernikahan.

Sebut saja dia Kak Ica, dia adalah cucu nenek yang ada di Jakarta. Aku mendengar ceritanya yang mendapat jodoh di Medan dan akan segera menikah dengan pria itu. Kakakku ini adalah janda yang masih perawan. Tujuh tahun lalu dia pernah menikah, namun pernikahan hasil perjodohan orangtuanya itu hanya bertahan sebulan saja. Penyebabnya adalah sang suami yang hobi selingkuh. Diketahui setelah ia menikah bahwa sang suami masih menjalin hubungan dengan kekasihnya yang ada di Bali. Sontak saja kakakku ini minta cerai, pasalnya hobi sang suami tidak bisa diperbaiki. Cintanya terlalu berat pada perempuan kekasih gelapnya itu. Tujuh tahun adalah waktu yang cukup lama untuk menyembuhkan luka parah itu dan berpikir sejuta kali untuk menikah lagi.

Ketika jodoh itu datang lagi, tapi kali ini kakakku yang memutuskan pasangan hidupnya sendiri. Betapa berbinarnya sorot matanya saat kami duduk di teras seminggu sebelum pernikahan. Dia menasihatiku agar benar-benar memilih pasangan hidup “Jangan mau seperti kakak ya!”.

Pernikahan pun digelar. Mereka menikah di luar kota Medan tepatnya di Tanjung Balai. Aku tidak bisa menghadiri pernikahannya karena ada kuliah wajib di hari Sabtu yang cerah ceria waktu itu.

Sebulan…sebulan setengah…pernikahan kakakku mulai dilanda prahara. Berulangkali dia datang ke tempat nenek dengan alasan untuk menenangkan diri. Kakakku tinggal di Medan setelah ia menikah jadi tidak sulit untuk pulang pergi ke rumah nenek. Lagipula tempat mengadu satu-satunya ya nenekku, keluarga besar kakakku ada di Jakarta semuanya.

Klimaksnya, kakakku hengkang dari rumah suaminya dengan membawa seluruh pakaian dan harta bendanya ke rumah nenekku. Dia benar-benar sakit hati dengan suaminya, ternyata sang suami menikahinya karena tergiur dengan harta kakakku. Beberapa kali si suami memohon meminjam uang padanya dengan alasan untuk menambah modal usaha baju-baju impor bekas—suami kakaku pengusaha yang membuka jasa menjual baju-baju impor bekas atau yang dikenal dengan MonZa, Mongonsidi Plaza di Petisah. Bukan itu saja, sang suami tidak cukup dengan uang 18 juta yang diberi kakakku padanya. Ia juga meminta pinjaman ke keluarga besar kakakku yang ada di Jakarta. Dalam hatiku “pria ini benar-benar tidak dipake di dunia para suami inspiratif nih, geram deh”.

Memang selama konflik tidak ada kekerasan fisik yang terjadi, namun sakit secara mental benar-benar membuat lebam luar dalam. Kakakku trauma, dia seperti dikejar-kejar rentenir kelas kakap, padahal itu suaminya sendiri. Walaupun kakakku janda tapi tidak seperti itu juga suaminya yang ia nikahi berstatus lajang itu memperlakukan kakakku. “Habis manis sepah dibuang”. Hidup dengan suami seperti itu sama saja hidup didalam lingkaran setan bernama kecurigaan. Curiga apakah suaminya memang benar menggunakan uang itu untuk modal atau hanya memanfaatkan istri dan keluarga pihak istri untuk menjadi bank uang bagi dirinya dan keluarganya.
Runtuh sudah impian untuk bahagia di pernikahannya yang kedua dan hampir dipastikan gagal. Saat ini kakakku dalam proses mengurus perceraiannya. “Mau gimana lagi, namanya ini sudah jalan hidup Ica”. Aku sedih mendengar kalimatnya ini setiap kali mengakhiri cerita sedihnya kepada nenekku.

Menikah itu pasti bahagia: is it just a fairy tale???

Bunda, aku memanggilnya bunda, karena dia adalah anak nenekku. Dia seumuran denganku hanya saja jodohnya ditakdirkan Allah lebih cepat daripada aku. Bundaku ini, orangnya lemah sehingga dalam sebulan wajib ada yang namanya dilanda penyakit ringan entah itu demam, batuk, pusing dan lain-lain, ia juga pendiam, suka memendam sesuatu sendiri.

Apa mungkin karena ia menikah dini jadi rasa ego itu masih dominan merajai keduanya. Beberapa kali nenekku mendapat laporan dari keduanya tentang rumah tangga mereka yang sering cekcok. Bisa dibilang nenekku akhir-akhir ini jadi psikolog pernikahan hehehehe...:D, dan aku menyerap kisah mereka untuk ditulis sebagai bahan pelajaran buatku kelak.

Terkadang masalah yang diributkan itu adalah masalah sepele. Aku saja jadi pusing sendiri jika mendengar masalah mereka. Intinya mari nge-teh mari bicara sebenarnya, KOMUNIKASI, itu kuncinya.
Mudah-mudahan mereka terus kuat mengatasi badai yang menerjang bahtera pernikahan mereka hingga sampai di pantai indah keabadian, pernikahan abadi hingga akhirat. Amiinn…:D

Menikah itu pasti bahagia: is it just a fairy tale?

Malam itu, saatku hendak bersiap-siap memejamkan mata. HPku bordering nada kereta api yang menuju stasiun :D.
Aslm, Rul, nie tami. Aq mau tnya, apa hokum ny kalo suami brkata pd istrinya: “aku berjanji tidak akan menyentuh drimu lg”. Apakh itu trmsuk sdh talak 1?

Glek!

Ada apa si Tami tiba-tiba bertanya seperti itu? Pasti ada yang tidak beres nih dengan pernikahannya.

Tami adalah salah satu BFF ku alias Best Friend Forever-ku. Dari zaman sekolah dulu sampai ia menikah pun kami masih selalu keep in touch. Pernikahannya pun masih terhitung bulan. Oktober 2010 yang lalu.

Aku kenal banget dengan BFF ku yang satu ini, dia wanita yang cukup berkeras keinginan jika menginginkan sesuatu, dan juga dia orang yang keras kepala. Jika berdebat dengan dia aku selalu kalah :D. Namun, aku senang berteman dengannya, selama bersahabat dengan Tami, aku banyak belajar dari pribadinya, walaupun ia orangnya keras, tapi hatinya selembut salju :D, aku belajar 3 bahasa kasih, maaf, tolong dan terimakasih. Di keluargaku aku belajar teorinya saja, tapi semenjak dengan dia aku belajar mempraktekkannya. Tami. *hmmmpphh…thanks sob*.

Makanya malam itu kaget luarbiasa, aku langsung bangun dari rebahanku dan berharap aku salah baca sms. Aku balas sms dengan mencoba menjawabnya dengan baik dan tidak ikut panic. Aku menenangkannya.

Aku juga kenal dengan suaminya. Dari pengamatanku sebelum mereka menikah, suaminya ini juga tipikal orang yang keras. Tapi kegelisahanku ini tidak kuutarakan pada Tami, takut ia marah dan kecewa padaku, aku tidak ingin membuat ia ragu dengan keputusannya untuk menikah dengan pria pilihannya.

Dan terbukti, sms malam ini cukup memberitahuku bahwa telah terjadi percekcokan antara ia dan suaminya.

Tidak berapa lama aku sms-an dengan Tami, ia pun meneleponku setelah beberapa kali aku mencoba menelpon dia, eh, malah direject terus sama Tami.

Dugaanku salah, rupanya yang meneleponku adalah mamanya Tami, waduh!. Terakhir mamanya yang curhat padaku, bahwa ya itulah setiap kali pulang dari rumah mertua, Tami selalu bertengkar dengan suaminya, “Ibu, jadi kasihan sama Tami, Rul, lihat saja badannya makin kurus. Suaminya kalau marah suka kesurupan Rul dan menyumpah-nyumpah agar membunuh orang yang berani ganggu suaminya, makanya Ibu gak ijinin dia tinggal berpisah dengan Ibu”. Deg!, aku terdiam disini, hmmpphh…Tami Sahabatku.

Menikah itu pasti bahagia: is it just a fairy tale?

Aa Gym bercerai???

Headline ini daku baca di salahsatu situs berita, awal Januari lalu. Cukup menyayangkan jika berita ini benar adanya.

Ustadz yang juga manusia, terkadang aku benci dengan pembelaan seperti ini. Seolah-seolah statemen ini menggampangkan semua orang untuk melakukan segala yang buruk yang seharusnya bisa dihindari.

Memang kita manusia, hanya saja kita juga diciptakan akal untuk memperbaiki segala selagi belum terlambat.

Menikah itu pasti bahagia: is it just a fairy tale?

Kisah Pernikahan Cinderella
Masih ingat dengan kisah Cinderella? Dan cerita-cerita para putri produksi Walt Disney lainnya? Mereka mengisahkan begitu sempurna jalan hidup seorang putri, yang bertemu dengan pangerannya dari kejadian-kejadian romantic dan membuat para pembaca wanitanya mengimpikan hal yang sama, ingin dijemput pangeran berkudanya dan membawanya untuk menikah di kerajaan dengan pesta yang meriah :D, sehingga ada istilah Cinderella syndrome. Istilah ini disematkan kepada para wanita yang menginginkan kisah percintaannya sama dengan kisah Cinderella.

Namun, pernahkah pembaca terpikir untuk melanjutkan kisah mereka? Apakah Cinderella bahagia dengan pernikahannya? Berapa anak yang mereka miliki? Apakah Cinderella jadi ibu rumah tangga sejati atau jadi ibu bagi rakyatnya seperti Lady Di? Pernahkah ada percekcokan antara Cinderella dan suaminya?.

Baiklah silahkan menjawabnya sendiri. Kita tinggalkan Cinderella dan kelanjutan kisahnya.

Dari peristiwa kegagalan pernikahan yang disering diekspos media terlalu lebay, efek domino yang terjadi adalah banyak wanita zaman sekarang yang memilih hidup single selamanya. Karena mereka berpikir hanya hidup hanya dengan berkarir cukup membuatnya merasa tidak terjajah oleh lelaki yang menganggap menikah hanya dijadikan ajang mengeruk harta si wanita yang sudah mapan atau hanya memanfaatkan tubuhnya saja setelah itu beralih ke wanita lain.

Hal ini juga didukung dengan banyaknya novel teenlit yang mengisahkan wanita metropolitan, karir dan lika liku perjalanan cintanya.

Lalu, bagaimana jika ia ingin melampiaskan libidonya?

Begitu komentar salahsatu teman yang membalas status temanku yang di fesbuk itu.Entahlah. naudzubillahi min dzalik. Tidak terbayang jika suatu saat nanti banyak anak yang lahir tanpa ayah, karena para ibunya memilih tidak terikat status pernikahan,misalnya dengan memanfaatkan jasa bank sperma, seorang wanita sudah bisa hamil tanpa suami.

Aku dan Dongeng Pernikahan
Inilah, aku…tulisan ini aku tulis karena kegelisahanku terhadap fenomena pernikahan saat ini yang sepertinya gampang sekali retak. Beda dengan pernikahan kakek nenek ku yang bisa awet seumur hidup mereka.

Aku belum menikah tapi akan menikah dan tidak tahu kapan. Seperti status fesbuk seorang teman di awal bahwa Menikah memang penuh riak, penuh liku, manis, asam bahkan pahit. Tapi itu bukan alasan untuk takut.

Rasa takut pasti ada. Takut seperti kejadian-kejadian yang aku ceritakan di awal. Tapi jangan dijadikan alasan.

Sama seperti aku ingin memilik netbuk. Allah telah memantaskan aku untuk saatnya memiliki netbuk. Dulu netbuk hanya ada di pikiranku dan kini sudah berwujud di depan mataku.

Begitu juga dengan memiliki pasangan hidup. Allah akan memantaskan diriku jika saatnya sudah tiba aku harus memiliki pasangan hidup. Nah, bagaimana agar Allah bisa menilaiku pantas untuk memiliki suami? Itu kembali ke diriku sendiri, sejauh apa aku sudah melakukan perbaiki diriku agar bisa pantas bersanding dengannya. Bagaimana jika aku ingin memiliki suami baik, sementara aku sendiri gemar berbuat tidak baik, pantaskah Allah memberiku suami baik???.

Pembaca yang membaca blogku, mohon doanya, agar aku dan wanita single lainnya bisa menemukan jodoh yang dikirim Allah dari Syurga. Amin.

"apabila telah tiba masaku
...untuk segera mengakhiri lajangku
dengan segenap kemampuan Allah berikan
Insya Allah janjiku segera kutunaikan

tapi bila kuraba dalam hati
datang seruntun pertanyaan silih berganti
adakah smua kulakukan terlalu dini
berdegub jantung di dada kendalikan diri

namun pernikahan begitu indah kudengar
membuat kuingin segera melaksanakan
namun bila kumelihat aral melintang pukang
hatiku selalu maju mundur dibuatnya

akhirnya aku segera tersadar
hanya kepada Allah tempat aku bersandar
aYang akan menguatkan hatiku yang terkapar
insya Allah azzamku akan terwujud lancar."

INDEFFERENCE

/ / 0 Comments
Oleh: Nurul Fauziah
17 Maret 2007
Di angkot bernomor trayek 46 jurusan B.Setia-Setia Budi menuju kantorku

Tidak seperti biasanya Emak cuma mengantarkanku sampai di Jalan Serdang dekat Pajak Sentral. Setelah mendapat jatah ongkos dari Emak sebesar Rp.20.000 (maklumlah saat itu daku masih dalam masa-masa krisis ekonomi ^_^), aku pun menyetop angkot bernomor trayek 46.

Agak penuh memang, tapi syukur Alhmdulillah, aku masih dapat tempat duduk pas di depan pintu angkot. Duduklah aku yang hari ini memakai jilbab hitam dan blus warna ungu tua serta stelan rok hitam sebagai bawahan. Tidak berapa lama aku duduk—sekitar sepuluh menitan gitu suasana dalam angkot berubah jadi crowded , ramai bin bising. Soalnya di bangku paling pojok sejajar dengan pintu keluar, ada seorang bapak yang memangku bayinya yang mungkin masih berumur kurang lebih sepuluh bulan. Bayinya menangis terus-menerus tidak mau diam. Di bangku paling pojok itu, cahaya matahari menyinari wilayah itu, sehingga hawa panas membuat si bayi gerah dan berakibat reaksi yang menyebabkan si bayi rewel sebagai sinyal menyuruh bapaknya supaya pindah posisi. Lalu karena tidak tega melihat si bayi menderita, ibu si bayi pun berinisiatif untuk meminta pak sopir berhenti sebentar dan menyuruh si bapak bayi untuk pindah posisi duduk di depan tepatnya duduk di samping pak sopir yang areanya cukup adem tidak disinari cahaya matahari.

Dan angkot pun berhenti, si bapak keluar untuk merealisasikan ide sang istri. Namun sedari tadi telah ada yang duduk rapi plus manis jali di samping pak sopir, dia adalah…eng, ing eng…tunggu setelah pesan-pesan berikut ini (loh?). Di tempat duduk itu ada seorang cewek, mungkin umurnya sekitar duapuluh lima tahunan gitu deh, tapi tau gak sodare-sodare tuh cewek bawaannya jutek banget, mukanya gak ada manis-manisnya, asem dah. Jadi ceritanya cewek ini terserang sindrom cuek stadium sejuta, gak peduli berat lah sama sekitarnya, mau si bayi menangis sampai jenggotan juga mungkin dia tetap gak peduli dan gak mau pindah posisi. Akhirnya mau tak mau dia turun dan pindah duduk ke belakang, ternyata dia mikir juga “daripada aku di demo orang satu angkot, terpaksa dengan berat hati ku relakan posisi uenak ku untuk si bayi rewel ini, begh”. Masih dengan kejutekannya, dia masuk ke angkot dengan menghentakkan kaki kirinya tanda tidak senang, wajahnya dipasang sejutek mungkin, kayak habis face-off gitu deh mengalahkan wajah monster hulk saat berubah jadi ijo. Pokoknya sepanjang jalan kenangan eh sepanjang perjalanan angkot, mukanya asem banget, manyun semanyun manyunnya, hingga akhirnya password itu pun keluar dari bibirnya yang manyun “Pinggir, Bang”. Dia memilih turun di Petisah dan tak lupa masih dengan tampang yang gak ada enaknya dipandang dah. Dengan sombongnya dia turun dari angkot, terus bayar ongkos ke Pak Supir. Tak lama setelah si Miss Jutek itu turun, para ibu yang berada di angkot dan yang memang dilahirkan untuk mengomentari apa yang dilihat, dirasa, dan didengar segera menimbulkan suasana bising seperti lebah yang keluar setelah sarangnya mendapat gangguan dari pihak luar, buzz….buzzzz, berikut rekaman komentar mereka dengan gubahan seperlunya (emang apaan?):

Ibu 1: “Gak ada cantik-cantiknya pun, sombongnya minta ampun.”
Ibu 2 :”Gak ada rasa toleransinya.”
Ibu 3: “Kalo dia punya otak, seharusnya dia ngerti lah, anak bayi pula yang gak tahan panas, gerah lagi”.
Ibu 4: “ Dia kayak gitu karena dia belum punya anak. Gak dikasih Tuhan, anak, baru tahu rasa dia”.
Ibu 5: “Hahaha, saya kira tadi dia istrinya pak supir, soalnya disuruh turun gak mau turun”.

Pak Supir pun dengan secepat kilat menangkis jawaban dari pertanyaan yang sangat menohok jantungnya seketika, dengan jawaban yang singkat, padat, actual, bombastis, fantastis, prikitiw, cikicick (lebay woi!). Ini dia jawaban indah dari Si Supir “Bukan Ah, jelek aja pun, gak ada cantiknya” (emangnya kalo dia cantik Pak Supir ada rencana memperistri dia? :P).
Apa itu Indifference ?

Serpihan kejadian di angkot yang saya rekam di atas, berawal dari kegelisahan dan keserahan di hati saya tentang sikap orang modern zaman sekarang yang semakin lama semakin cuek dengan keadaan sekitarnya.
“Love me, or just hate me, but spare me with your indifference”

Pernah baca sepotong kalimat di atas?, Ya, kalimat di atas saya kutip dari novel Sang Pemimpi, kalimat di atas menggambarkan betapa semangatnya Arai mengejar cinta Zakiah Nurmala. Arai yang tidak pernah putus asa, walaupun cinta itu tidak tahu apakah akan berbalas atau tidak sama sekali, karena melihat kondisi Zakiah yang cuek luarbiasa terhadap Arai mau bagaimanapun usaha Arai untuk meruntuhkan pertahanan Zakiah, Zakiah tetap tidak bergeming sedikitpun. Arai hanya tahu bahwa ia begitu mencintai gadis pujaannya itu. Cintai aku, atau benci aku sekalian, tapi sungguh jangan sekali-kali kau acuhkan aku, begitulah kurang lebih makna dari kalimat itu. Dalem bangetkan?

Indifference adalah istilah dalam bahasa inggris, berdasarkan kamus Webster, indifference is not showing or feeling interest, without interest or concern; not caring; apathetic: his indifferent attitude toward the suffering of others sedangkan dalam bahasa Indonesia Indifference lebih diartikan kepada sikap cuek, tidak peduli dengan keadaan sekitar dan cenderung membuat orang lain menderita hanya karena sikap ketidakpeduliannya. Contohnya seperti yang saya kisahkan di awal esai ini.

Emang Enak Jadi Orang Cuek?

Kemarin saya ke mall, tempat hiruk pikuk manusia dari berbagai kalangan tumplek blek jadi satu. Biasanya saya ke mall kalau ingin nonton atau diajak sama orang tua saya. Yang bikin saya tertarik saat di mall, di sana ada berbagai macam orang. Kalau duduk di foodcourtnya, saya paling suka mengamati orang-orang yang lalu lalang atau duduk-duduk disana. Nggak ada yang sama kan dari mereka. Setiap orang punya cirinya masing-masing . Ada yang rambutnya warna-warni, ada yang pake rok mini, ada yang teriak-teriak di tengah hall, ada juga dua orang cowok dan cewek yang duduk dalam diam. Nggak tahu apakah grogi atau malah lagi berantem.
Dari semua orang itu, yang baru-baru ini menarik hati saya adalah orang-orang yang lagi jalan, melenggang sendirian, pake earphone di telinga. Kadang-kadang mereka nabrakin orang, jalan tanpa lihat kanan kiri. Nggak seperti kebanyakan orang yang jalan pelan-pelan sambil lihat etalase toko. Yang melintas di pikiran saya adalah, “Apa yang ada di pikiran mereka ketika berjalan ya?”

Tulisan curhat di atas saya kutip dari sebuah blog (shasays.wordpress.com) dengan gubahan seperlunya, saya dan Anda pasti pernah mengalami hal serupa ketika sedang duduk-duduk di suatu tempat lalu tanpa sengaja memfokuskan perhatian kepada orang-orang yang lalu lalang. Lalu kita pun siap menikmati segala keunikan mereka yang lalu lalang. Ada banyak cerita di sana dan ada banyak ekspresi yang tercipta.
Aristoteles pernah bilang manusia adalah makhluk social dan orang yang hidup di luar masyarakat itu adalah seorang malaikat atau seorang yang bukan orang (lah kok?). Sekilas orang seperti itu seperti anak autis. Asyik di dunianya sendiri. Padahal, kita hidup bermasyarakat.

Taburlah kebiasaan, tuailah karakter, taburlah karakter, tuailah nasib, kata Om Stephen R. Covey dalam bukunya yang fenomenal The 7th Habits of Highly Effective People. Mungkin kebiasaan cuek itu memang sudah tidak aneh lagi di zaman sekarang, tapi jika kita menganggap sesuatu itu tidak aneh, maka sesuatu itu akan menjadi suatu hal yang biasa meskipun sebenarnya tidak bagus juga untuk dijadikan kebiasaan. Mungkin juga karena zaman sudah berubah, semua dituntut serba cepat dan bersaing dengan ketat untuk mendapatkan apa yang diinginkan, sehingga kita terpaksa untuk tidak mempedulikan satu dengan yang lainnya karena sibuk dengan diri sendiri. Masih banyak lagi kemungkinan-kemungkinan lain yang membenarkan bahwa sikap cuek itu perlu dikembangkan, benarkah?

Cuek dan Cara Mengatasinya.

Tanpa bermaksud menghina diri, saya termasuk orang yang terkadang cuek dengan keadaan sekitar karena saya pikir hal itu diluar kendali saya, namun hati kecil ini sering memberontak bahwa sikap cuek itu tidak bagus untuk dipelihara dan terkadang suara hati itu kerap saya abaikan.

Jelasnya, Indifferent ini sikap yang tidak boleh dipelihara. Saat saya masih menyimpan sikap jelek bin haram ini, banyak orang yang kesal dan kecewa sama saya . Terutama orang-orang yang tidak kenal sama sekali sama saya. Katanya saya seperti orang yang suka cari musuh. Setelah itu, baru saya sadar bahwa sikap saya itu merugikan diri sendiri. Acuh pada keadaan sekitar selain membuat kita jadi kuper, juga bisa membuat orang lain tidak simpatik dengan kita. Bahkan bisa jadi karena sikap kita yang superduper cuek, malah membuat orang lain menderita. Biar pun tidak semua hal harus difokuskan, tapi paling tidak, berikanlah perhatian kepada mereka yang ada di dekat-dekat kita dulu. Orangtua kita mungkin yang selama enam hari dalam seminggu sering dicuekin, nah, gunakan momen hari libur untuk bercengkerama dengan mereka, sahabat kita mungkin, yang sudah nemenin kita selama ini dengan sabarnya atau tugas-tugas kuliah kita, yang semakin lama kok semakin menggunung. Hal-hal kecil seperti itu bisa dipakai sebagai permulaan untuk belajar meminimalis sikap cuek .

Ayo. . . tingkatkan kesadaran akan dunia dan cobalah untuk lebih memahami orang lain dengan begitu kita pun akan dipahami juga oleh orang lain. !
Powered by Blogger.